Thursday, 3 December 2015

Jepit Testis dan Bawang Putih di Anus

(Sakit Politik Politikus Sakit)

ADA satu trik yang terbukti masih saja ampuh untuk menangkal pemanggilan aparat penegak hukum. Bukan suap, bukan koneksi kedekatan dengan pejabat, bukan pula dengan cara melarikan diri yang akhirnya justru malah memasukkan kita ke dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) dan dianggap sebagai seorang Buronan polisi. Trik itu adalah pura-pura sakit.

Iya, pura-pura sakit dan berobat keluar negeri. Kalaupun tidak sempat atau tidak mampu keluar negeri, cukuplah di rumah sakit terdekat namun ngumpet di ruang yang tidak dapat diakses aparat. Lebih-lebih wartawan. Karena bahaya kalau tercium para pekerja pers ini. Kepura-puraan yang sudah dibungkus demikian rupa bisa saja dengan sangat mudah terbongkar ke muka publik.

Walaupun sebenarnya, rakyat sekarang tidaklah bodoh. Karena mendadak sakit ketika seseorang sedang berkasus, sangat mudah mengundang kecurigaan. Apalagi jika kemudian, aparatnya malah terkesan percaya begitu saja kalau yang bersangkutan sakit. Tanpa mau, misalnya menerjunkan dokter untuk mengecek kebenaran sakit si calon tersangka.

Namun kalau skenario sakit ini sukses dilakukan, semua bisa dikelabui dengan sangat mudah. Lebih-lebih publik. Sebab di zaman sekarang, bagi para politisi yang tersangkut kasus tertentu, nama baik tentulah yang paling dijaga. Suap, mungkin mudah saja dilakukan. Koneksi dengan pejabat dari aparat penegak hukum, pastilah. Karena sepanjang karir mereka di ranah politik, pertamanan dengan para pejabat itu sungguh sebuah hal biasa. Tapi apa kata publik, ketika sebuah kasus tiba-tiba saja meredup tanpa ada kelanjutannya. Pastilah banyak yang bertanya-tanya sambil menghubungkannya dengan suap dan koneksi yang bersangkutan dengan oknum aparat penyidik.

Akhirnya, aparat pun kini lebih berhati-hati. Harus bermain cantik. Tidak bisa lagi asal bantu begitu saja dengan teman politikus mereka yang tengah tersandung masalah. Bisa-bisa malah mereka yang ketiban pulung. Ikutan diselidiki karena diduga telah berkomplot. Walaupun mereka bisa saja melakukannya. Mereka cukup pura-pura tidak tahu kepura-puraan itu, dan dalam jumpa pers di depan wartawan mereka mengatakan, kalau si politikus saat ini memang sedang sakit. Sumpah!

Dimana rasa kemanusiaan kalian, masa kita memaksa orang sakit untuk diperiksa. Lagi pula, saat orang sakit, keterangan yang diberikannya pun dapat saja menjadi kurang akurat. Bahkan dalam sebuah persidangan di pengadilan pun, hakim selalu menanyakan kesehatan terdakwa sebelum meneruskan persidangan. Kalau sakit, dan benar-benar sakit, sidang dapat saja ditunda untuk dilanjutkan di lain waktu. Apatah lagi dengan tahapan yang baru masuk pemeriksaan saksi.

Yang repotnya itu, politikus yang selama ini tidak memiliki pertemanan atau koneksi yang dapat membantu mereka memainkan drama pura-pura sakit itu. Namun jangan putus asa dulu. Karena ada dua hal yang dapat Anda lakukan. Pertama, menghilang dulu keluar negeri. Baik untuk selamanya maupun sementara waktu sambil menunggu sampai aman dulu. Aman sampai publik lupa, atau aman sampai usaha bersih-bersih barang bukti rampung dilakukan. Dan kalau kondisinya memungkinkan, sang politikus bisa balik lagi dan menjelaskan ke publik atau pendukungnya, kalau selama menghilang dia sakit dan harus berobat keluar negeri. Singapura, misalnya.

Bagaimana kalau tidak mampu keluar negeri atau tidak keburu melakukannya. Tahu-tahu, aparat sudah berjaga di bandara atau di depan rumah. Kalau kondisinya sudah demikian, maka pakailah cara kedua. Anda harus benar-benar sakit. Bukan pura-pura sakit. Karena aparat tentu tidak bodoh. Mereka tentu akan mendatangkan dokter untuk memeriksa kesehatan Anda. Caranya? Pelajaran dari cerita berikut ini mungkin layak untuk dicoba.

Ceritanya begini. Suatu ketika, Ketua DPRD di Kabupaten B tersangkut kasus pemalsuan ijazah. Hampir semua media memberitakannya. Aparat penegak hukum pun tidak dapat lagi berdiam diri atau pura-pura tidak tahu ada kasus itu. Akhirnya, dilayangkanlah surat pemanggilan untuk pemeriksaan. Pemanggilan pertama dan kedua diabaikan. Giliran surat pemanggilan terakhir, aparat sudah menyiapkan penjemputan paksa. Di saat genting itulah, sang ketua curhat dengan salah seorang pejabat di kabupaten B. “Bagaimana ini kawan, besok pasti saya sudah ditangkap,” begitu kira-kira dialog yang terjadi diantara mereka.

Si pejabat kemudian menyarankan sesuatu yang sedikit tidak masuk akal. Ketua DPRD yang sedang terancam itu diminta untuk sakit malam itu juga. Selambat-lambatnya, harus benar-benar sakit di pagi hari saat rencana penjemputan dilakukan. Sang Ketua pun bingung. Dia tentu tidak mungkin menyogok Tuhan untuk memberikannya sakit sesuai pesanan. Kalau pun bisa dengan cara berdoa agar sakit itu segera datang, masa ada sih doa untuk mendatangkan sakit. Yang ada malah doa minta kesembuhan.

Jadi bagaimana. Si pejabat membocorkan triknya. Caranya hanya dengan menyumpal, maaf, lubang anus dengan satu siung bawang putih yang sudah dikupas kulit arinya dan mendudukinya semalam suntuk. Kalau “resep” itu tepat dilakukan, maka dinihari atau selambat-lambatnya pagi hari, ketua dewan akan mengalami demam tinggi.

Karena tidak ada cara lain dan sudah kepepet, saran itu dilakukan sang Ketua. Dan benar saja. Dia mulai demam menjelang subuh. Mungkin mengalami inpeksi. Demamnya kian meninggi saja ketika aparat datang menjemput bersama beberapa wartawan dan seorang dokter yang sengaja disiapkan untuk mengecek kesehatan target mereka yang sebelumnya diketahui dari ajudan yang bertugas di kantor DPRD, kalau bosnya sedang sakit.

Karena benar-benar sakit, akhirnya polisi urung memeriksa sang ketua. Malah mereka-lah yang justru mengantarkan ke rumah sakit dan langsung opname sekian lama di ruang VIP. Saat opname inilah, sang ketua berkesempatan beres-beres dengan mengutus kaki tangannya, membereskan semua urusan administrasi seputar ijazah diduga palsu yang digunakannya saat pencalonan waktu itu.

Soal trik pura-pura sakit ini juga sukses dilakukan seorang kawan yang pernah nyantri di salah satu Ponpes tradisional. Sistem pondok yang sangat ketat mengatur santrinya hanya bisa keluar dari lingkungan Ponpes sekali dalam seminggu, yaitu di hari Jumat. Itu pun digunakan untuk sholat Jumat di masjid terdekat. Sore harinya, atau Jumat sore para santri sudah harus berada di pondok untuk mengikuti sholat magrib berjemaah. Nah, suatu waktu teman saya ini ingin keluar malam minggu untuk nonton konser di kota. Kalau keluar di luar jadwal libur mereka harus izin ke Kyai. Dan biasanya sangat jarang diizinkan kalau alasannya itu bukan karena sakit, ada keluarga yang meninggal dunia, atau urusan penting dan masuk akal lainnya yang tidak bisa ditunda.

Pernah ada penghuni Ponpes yang berpura-pura sakit. Dengan muka yang meringis dan akting meyakinkan, dia minta izin pada Kyai untuk berobat, namun gagal. Sang Kyai ternyata tahu, kalau yang bersangkutan bohong, hanya dengan mendeteksinya melalui jabat tangan.

Kegagalan yang sama tentu saja dialami rombongan santri yang berniat nonton konser. Satu persatu santri yang mengaku sakit, ketahuan bohong setelah bersalaman dengan Kyai. Kecuali teman saya. Semua heran, mengapa dia bisa lolos. Padahal jelas-jelas dia segar bugar, sehat walafiat. Tidak mengalami sakit apapun saat bersalaman dengan Kyai. Rahasia itu, beberapa tahun kemudian (setelah lulus) diceritakannya pada saya.

Mau tahu rahasianya? Rahasianya adalah dengan cara membuat sakit benaran. Jadi begini, sebelum bertemu dan bersalaman dengan Sang Kyai, dia membuat sakit beneran dirinya dengan menjepitkan penjepit pakaian ke bagian, maaf, testis alias biji alat vitalnya sebelum bersalaman dengan Kyai. “Lie Detector” Sang Kyai ternyata mampu ditipunya dengan trik sakit tadi. Dia pun selamat keluar dari Ponpes dan menonton konser dan bersenang-senang di kota. Demikian. Ada yang mau nyoba?

***

Saat membuat tulisan ini, saya sambil nonton tv selain Metro TV yang sedang ramai mengulas berita Surya Paloh, Bos Metro TV yang tidak kunjung memenuhi pemanggilan KPK terkait kasus Bansos Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho. Ada yang bilang, dia sedang sakit dan berobat di luar negeri. Kalau bertemu beliau, bilang saja, trik jepit jemuran dan bawang putih boleh dicoba. Semoga beruntung, hehehe...()



No comments:

Post a Comment