Monday, 19 October 2015

Juara itu harusnya Cuma Satu, Tapi…


TADI malam turnamen sepakbola piala presiden 2015 resmi berakhir. Sebagai juaranya Persib Bandung. Disusul di tempat kedua, yang biasa disebut sebagai juara kedua Sriwijaya FC. Pada pertandingan sebelumnya, atau pertandingan sehari sebelumnya, memperebutkan posisi 3 dan 4, berhadapan Arema Cronous melawan Mitra Kukar, yang menjadi satu-satunya asal Kalimantan yang selamat hingga fase semifinal.

Pada malam itu, pertandingan dimenangkan Arema dengan skor cukup telak 2-0. Karenanya kesebelasan asal Kota Malang Jawa Timur itu berhak mendapatkan gelar juara tiga dan menerima pengalungan medali (mungkin) perunggu. Dan ternyata, Mitra Kukar juga dianugerahi pengalungan medali. Entah berbahan apa. Kali ini memang sedikit istimewa, juara empat, yang harusnya tidak masuk hitungan juara itu, juga mendapatkan pengalungan medali. Ya, mungkin ini untuk melipur rasa kekecewaan saja. Juara empat masih dapat penghargaan dari panitia.

Tapi apa benar klub yang berada di posisi keempat saja yang harus diselamatkan dari rasa kecewa. Bagaimana dengan posisi kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya. Bahkan jauh sebelum turnamen piala presiden di mulai, mungkin juga ada digelar babak-babak kualifikasi, sehingga klub yang ikut turnamen, yang disebut-sebut sebagai kebangkitan persepakbolaan Indonesia yang saat ini masih dibayangi sanksi dari FIFA itu, juga bukan klub sembarangan. Mereka yang tidak lolos kualifikasi, juga harus tersingkir sebelum masuk ke pertandingan sebenarnya dalam turnamen. Mirip-mirip piala dunia-lah, yang pertandingan kualifikasinya pun sudah dibuat heboh begitu rupa.

Bagi klub yang tersingkir jauh sebelum turnamen dimulai, pastilah juga menyimpan kekecewaan. Sudah melakukan berbagai persiapan, eh baru bertanding sudah ketemu lawan berat dan langsung keok. Bagaimana tidak merasa kecewa. Seperti halnya nasib yang dialami Martapura FC yang harus berada di grup “neraka” bersama Persib Bandung dan Persebaya yang di tengah kompetisi mengubah namanya menjadi Bonex FC. Kekecewaan ini tentu harus juga dipikirkan oleh panitia. Kalau juara empat, yang sebenarnya juga tidak bisa disebut juara ini diberikan medali yang juga entah terbuat dari bahan apa untuk menyebutnya selain medali emas, perak, perunggu. Maka mereka yang terhempas di awal-awal kompetisi juga diberikan “kasih sayang” serupa biar adil.

Menurut sejarahnya, medali ini dimaksudkan untuk mewakili nilai-nilai Olympisme: Persahabatan, kehormatan, dan keunggulan dalam menghormati lawan. Bagi para pemenang, medali adalah simbol abadi kerja keras, latihan, ketahanan, sportivitas, dan kemuliaan tertinggi bagi dirinya sendiri dan bagi negaranya. Dan herannya, para pemenang Olimpiade Yunani kuno ternyata juga tidak mendapat medali sama sekali. Kecuali sebuah karangan bunga zaitun diletakkan di atas kepala sang juara. Peringkat kedua dan ketiga tidak mendapatkan apa-apa.

Barulah pada tahun 1896, tahun pertama Olimpiade modern digelar, hanya juara pertama dan kedua yang diakui. Karena perak dianggap lebih berharga ketimbang emas pada waktu itu, pemenang pertama dianugerahi medali perak dan sebuah mahkota dari cabang bunga zaitun. Para atlet yang menduduki peringkat kedua mendapatkan medali perunggu dan mahkota laurel. Setiap atlet yang berpartisipasi dalam Olimpiade menerima medali kenang-kenangan.

Pemberian medali kepada tiga pemenang teratas pertama kali diperkenalkan pada tahun 1904. Pada tahun yang sama, medali perak untuk juara pertama digantikan dengan medali emas. Medali emas pertama terbuat dari emas murni dan diberikan sampai tahun 1912. Namun saat ini, medali “emas” sebenarnya terbuat dari sterling silver yang dilapisi dengan lapisan tipis emas murni.

Dan kalau boleh kasih saran, kenapa tidak semua peserta saja diberikan medali dan penghargaan, seperti yang pernah terjadi di tahun 1896. Agar siapapun yang ikut pertandingan bola tidak jera dan merasa kecewa. Mungkin kedengarannya agak aneh, semua peserta mendapat medali. Tapi tak usah heran, awalnya gelar juara-juara selain juara satu juga terkesan aneh, sebab, kalau menilik kata kamus, juara itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang keluar sebagai pemenang, juara satu, sang juara, peserta terbaik. Dan yang namanya terbaik itu, awalan ter- adalah untuk mengartikan sesuatu yang tanpa banding. Tak mungkin ada yang ter- untuk posisi kedua, tertiga, dan belakangan ada lagi yang terempat. Kalau mau, sekalian aja dibuatkan juara sampai 10, atau yang mendapatkan gelar tersepuluh.

Saya teringat dulu waktu bersekolah SD, demi memotivasi siswa untuk terus berprestasi di kelas, pihak sekolah kemudian membuat semacam kompetisi, mereka yang memiliki nilai terbaik, maka dia berhak mendapat gelar juara satu. Bagi yang memiliki nilai dibawahnya, menjadi juara dua, tiga dan seterusnya. Waktu itu sampai dibuatkan juara harapan satu dua, tiga, untuk mereka yang memperoleh prestasi di tingkat keempat, lima dan enam. Bedanya dengan juara satu dua dan tiga, mereka yang berada di posisi 4, 5, dan 6 ini hanya maju ke depan kelas dan tidak mendapatkan bingkisan berupa buku dan peralatan sekolah dari kepala sekolah seperti halnya juara satu, dua dan tiga.

Bagi yang juara satu, dua, dan tiga pun, dari segi jumlah hadiah juga dibedakan. Kalau juara satu mendapatkan paling banyak hadiah, buku sampai 12 lembar atau satu lusin, dengan tambahan pulpen, pensil dan penghapus, juara kedua bukunya tinggal setengahnya, hanya sekitar enam lembar, dengan pensil dan pulpen, sedangkan juara tiga, bukunya tinggal 4 lembar dengan alat tulis hanya pensil dan penghapus. Sementara, juara harapan satu, dua dan tiga, hanya dapat tepuk tangan dan salaman dengan kepala sekolah. Dengan tepuk tangan pun saya sebenarnya ragu memastikannya, apakah itu untuk mereka yang bertiga terakhir itu, atau jangan-jangan tetap untuk sang juara. Perhatian pun, saya kira, hanya tertuju untuk sang juara. Semua mata akan tertuju penuh ke arah sang juara, bahkan mungkin tidak untuk juara dua dan tiga, apalagi cuma harapan satu, dua, maupun tiga. Paling-paling orang tuanya yang masih menyisakan sedikit rasa bangga, bahwa anaknya nyaris saja mendapat bingkisan alat tulis.

Itu artinya, juara itu sebenarnya hanya satu orang, seseorang yang benar-benar keluar sebagai pemenang dalam berbagai kompetisi. Tengoklah lagi definisi dari juara, baik yang tertera dalam kamus bahasa Indonesia, maupun dalam terjemahan Wikipedia.

Dalam kamus bahasa Indonesia, juara diartikan sebagai orang (regu) yang mendapat kemenangan dalam pertandingan yang terakhir; 2 orang yang gagah berani; orang yang pandai bersilat; pendekar; jagoan; 3 pengatur dan pelerai dalam persabungan ayam; 4 pemimpin peralatan (pesta dan sebagainya); 5 ahli; terpandai dalam sesuatu (pelajaran dan sebagainya)

Sedangkan dari versi wikipedia, juara adalah seseorang maupun kelompok yang telah memenangkan turnamen, kompetisi, liga, Olimpiade, atau kontes dalam bidang tertentu (misal bidang seni, kesenian, olah raga, menyanyi, ataupun iptek dan sains, dan lain-lain). Seseorang atau tim dapat menjadi juara di tingkatan yang berbeda, dan gelar juara sendiri diberikan pada pemain terbaik.

Dari sini kan jelas, kalau sang juara itu adalah mereka yang menjadi pemenangnya, bukan juara-juara lainnya yang berada di bawahnya, satu-dua tingkat dan seterusnya. Kalaupun panitia menyiapkan medali lainnya, biasanya perak untuk juara dua, perunggu untuk ketiga, dan (mungkin) alumunium untuk juara empat dan seterusnya, semata-mata hanyalah untuk mengobati rasa kecewa saja. Harusnya jangan tanggung-tanggung, sekalian saja dipikirkan gelar-gelar lainnya untuk mereka yang kurang beruntung. Teladanilah kompetisi serupa seperti pemilihan putri Indonesia. Ada banyak gelar diberikan untuk mereka-mereka yang kalah cantik dengan sang putri terpilih. Ada yang menjadi puteri Indonesia Lingkungan, ada yang bergelar putri Indonesia Pariwisata, ada puteri dengan kostum terbaik, pinggul terseksi, galungan sanggul yang futuristik, dan lain-lain.

Juara keempat, kelima, dan keenam, kita semua sudah paham. Mereka otomatis digelari juara harapan 1, harapan 2, dan harapan 3. Bagaimana dengan juara ketujuh, delapan, dan sembilan? Cari saja istilah lain seperti halnya “harapan” tadi. Misalnya, impian. Jadi, mereka yang hanya berhasil mendapatkan posisi di urutan ketujuh, kedelapan, dan sembilan, berhak mendapat gelar juara impian 1, impian 2, dan impian tiga. Begitu seterusnya, sampai (kalau diperlukan) ada yang bergelar juara khayalan 1, khayalan 2, dan khayalan 3, hehehe…

Sehingga ketika pulang ke daerahnya masing-masing, dalam jumpa pers dihadapan wartawan disaksikan kepala daerah, mereka masih bisa berbangga. “Alhamdulillah, kami berhasil mendapat medali plastik dan memperoleh gelar juara impian satu". Atau begini: "Kami bersyukur, masih bisa mendapat gelar sebagai juara khayalan satu, dan berhak membawa pulang medali dari batu akik".

Wartawan pun jadi enak membuatkan narasi dan judul beritanya; "Warga Provinsi Anu Bawa Pulang Medali Plastik". Pada sub judul ditulis: " Juara Khayalan Satu Turnamen Anu". Sehingga dalam setiap kompetisi tidak seorang pun yang merasa kalah, kecewa karena tidak mendapat gelar juara. Uang yang diberikan saat mendaftar pun terasa tidak sia-sia, sebab toh oleh panitia juga akan dikembalikan dalam bentuk medali-medali itu dan hadiah berupa uang pembinaan tentunya. Walaupun jumlah dan besaran nilainya tidaklah sama dengan yang menjuarai satu dua dan tiga.

Dari segi keamanan juga sangat bermanfaat. Karena semua happy mendapat gelar juara, maka tidak ada sporter yang merasa kecewa, terus tawuran dan membuat kerusuhan di dalam stadion, atau menembak-nembakkan laser kearah mata penjaga gawang lawan, sebab toh, klub kesayangannya pasti juara, entah juara apa dan apa.

Lagi pula begini, tujuan dari setiap pertandingan itu kan, terutama olahraga, kadang juga tidak untuk memilih siapa yang terbaik, tapi nilai persahabatannya. Dan ini yang lebih penting ketimbang juara-juaraan, pertandingan untuk mempererat persahabatan, bukan untuk gengsi-gensian, apalagi untuk taruhan. Disadari ataupun tidak, semua itu bergeser dari tujuan awal digelarnya sebuah kompetisi.

Apalagi dalam kompetisi olahraga, olahraga sendiri kan untuk kebugaran tubuh. Bagi siapapun yang melakukannya, diharapkan akan mendapatkan tubuh yang bugar, sehat jasmani dan rohani. Kalau semua orang sudah mendapatkan kesehatan jasmani dan rohani dari Tuhan, apakah ada yang lebih besar nilainya dari kesehatan itu. Apa enaknya, apa hebatnya juara tapi tidak sehat. Juara tapi kaki atau tulang rusuk patah, otak gegar akibat tawuran di tengah lapangan, atau sampai kehilangan organ tubuh segala. Saya lebih memilih, mending lari-lari kecil untuk berolahraga dan mendapat kesehatan sebagai bentuk juara dari Tuhan, daripada gelar juara dari manusia namun mengecewakan orang lain. Begitu menurut saya. ()

No comments:

Post a Comment