Tuesday, 22 December 2015

Antara Miss Colombia, Miss Kaltim 2014, dan Sensasi Sebuah Miss V

SIAPA yang paling merasa malu diantara mereka berdua ini, Miss Colombia Ariadna Gutierrez, atau MC yang memadu Miss World 2015, Steve Harvey? Akibat kesalahannya mengumumkan pemenang ratu sejagat itu, Ariadna yang selama sekitar dua menit berada di atmosfir terluar bumi, tiba-tiba jatuh dengan berderai air mata.

Menanggung jutaan ton rasa malu karena terlanjur menghamburkan ciuman jauhnya kepada jutaan pasang mata penonton dan pendukungnya yang menyaksikan event tahunan yang lisensi penyelenggaraannya pernah dimiliki Donald Trump itu. Mahkota dan selempang bertuliskan miss world yang amat membanggakan para kaum hawa itu terpaksa dilepaskan lagi dengan sangat dramatis.

Kepada siapakah hujatan ini layak dihujamkan. Kepada MC yang karena keterbatasannya sebagai manusia, keliru mengumumkan pemenang sebenarnya, yang harusnya mendapatkan mahkota, selendang, tepuk tangan, sorot kamera yang terkabarkan ke seluruh dunia, dengan kebanggaan sebagai wanita tercantik sejagat. Sekaligus merenggut paksa harga diri seorang perempuan yang terlanjur bahagia.

Bersama beberapa kawan saya terlibat perdebatan kecil. Masing-masing dengan argumentasinya. Seorang kawan bak hakim Bao berpendapat, sang MC harus dihukum berat, kalau perlu tak usah dibayar. Walau sebenarnya, menurut saya, hukuman seperti yang dipikirkannya itu bukanlah yang terberat. Sanksi sosial yang bakal diterima sang MC pastilah jauh lebih berat.

Coba bayangkan, selepas ini, walaupun dia telah meminta maaf secara terbuka di banyak media, apakah masih ada event-event organiser besar yang mau lagi ngontrak dia untuk ngemsi. Selepas panggung digulung, salaman basa-basi dengan ketua panitia, mungkin dia masih menerima bayaran atas jerih payah terakhirnya di dunia master ceremony. Tapi dia benar-benar bakal angkat koper mencari profesi lain. Karena saya haqqul yaqin, tak ada satupun pengelola event yang mau mengontaknya lagi. Kecuali, yeah, event-event kecil seperti hajatan ulang tahun balita yang baru bisa jalan, hajatan kecil tingkat RT, atau mantenan. Itupun pastilah dengan perasaan was-was, jangan-jangan dia salah sebut lagi, misalnya, nama mempelai yang ketukar dengan nama orang tua yang bikin hajatan.

Di acara amal yang digelar level kampungpun, mungkin panitia masih ragu, jangan-jangan dia salah sebut lagi jumlah sumbangan yang diberikan para dermawan. Ini bisa gawat, bisa-bisa panitia malah dilaporkan polisi dan langsung kena audit karena, antara yang disumbang dengan yang diumumkan MC tidak singkron.

Mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas, Sang MC harus mulai dari nol lagi. Mencari profesi lain untuk menyambung hidup. Tapi kalau dia bersikeras dengan profesi lamanya, ya seperti itulah jadinya. Tak ada lagi yang bakal percaya. Bukan lagi masalah dia dibayar mahal atau tidak, atau gratis sekalipun, tapi masalah efek yang terjadi setelah kesalahan itu. Kalau dia ngeyel, tetap ingin jalan di profesi lamanya, pastilah dia berada dalam kesulitan yang lebih besar lagi. Saya sih menyarankan, dia lebih baik tidak memilih pilihan itu. Taruhlah dia coba menyamar dan berhasil mengganti identitasnya yang terlanjur tenar mendunia sejak kecelakaan itu. Itupun saya rasa tidak mudah sebab pasti banyak warga dunia yang masih hapal gerak-geriknya, irama langkahnya, gaya dia megang mik, humor-humor yang diloncatkannya disela-sela bicara, susunan geliginya, bentuk posturnya, yang tentu sulit disembunyikan walau dengan operasi plastik sekalipun. Satu-satunya hal yang menurut saya bisa menghindarkannya dari frustasi bukanlah puluhan butir obat tidur yang ditenggaknya bersamaan, tapi gantung mik dan nyari profesi lain. Itupun harus 180 derajat berbeda dari yang ada.

Lantas bagaimana dengan Miss Colombia? Jika dia tabah, sabar, ikhlas, tawaddu menerima kenyataan, saya rasa dia malah akan lebih terkenal dan diterima warga dunia, bahkan mungkin lebih dikenang ketimbang menjadi miss world. Sesegukannya di belakang panggung, rasa malu, kehilangan harga diri, atau mungkin sampai ingin operasi ganti wajah dan kelamin, adalah hal biasa terjadi sesaat setelah peristiwa malu itu dialami. Selanjutnya setelah itu, saya rasa tak ada yang berubah dari hidupnya. Bahkan mungkin akan banyak rekan, handai taulan yang berkunjung dan ingin menguatkan.

Di beda belahan dunia, di beda peristiwa memalukan yang melatarinya, jauh dari panggung dunia yang banyak menyita perhatian masyarakat dunia, di Indonesia, tepatnya di Kota Surabaya, seorang yang juga menyandang gelar Miss untuk daerah pemilihannya; Miss Kaltim 2014 juga mengguncang perhatian publik.

Si Cantik yang satu ini tertangkap basah menjual kehormatannya sebagai seorang wanita berprestasi kepada seorang polisi yang menyamar sebagai lelaki hidung belang yang membokingnya. Bersamanya, terciduk pula seorang artis lain yang juga tertangkap di hotel yang sama. Akibat peristiwa ini, dia sukses menghias layar kaca di Indonesia, bahkan mungkin juga beberapa televisi negara tetangga dengan berita penangkapannya. 

Selama berhari-hari dan berjam-jam dalam seharinya, berita dan wajahnya muncul. Bukan hanya layar kaca, layar LCD smartphone, komputer, laptop yang kebetulan sedang mengintip kehebohan kabar ini di portal-portal berita di dunia maya pun pasti akan dipenuhi foto-foto Miss yang satu ini. Foto yang mengabadikan detik-detik membanggakan saat dia disampirkan selendang dan mahkota kehormatan yang mirip dengan yang diterima Miss Colombia.

Celakanya, karena wartawan belum memiliki banyak koleksi foto Sang Miss, dan lagi pula, dia memang belumlah lama menjadi artis yang betul-betul terkenal dan memiliki banyak foto yang dipublish di internet, mau tak mau, hanya foto saat dia bermahkota dan berselempang Miss Kaltim itu saya yang selalu dimuncul-munculkan. Atau mungkin, memang hanya foto inilah yang paling menjual. Dengan wajah yang awalnya sedikit diblur, tapi belakangan blurnya hilang dan muncul wajah tanpa penghalang. Dan memang cantik untuk ukuran wanita-wanita kebanyakan di kampung saya.

Saya membayangkan, Miss yang satu ini setelah peristiwa memalukan itu menjerit, berteriak, memaki nasib buruk yang dialaminya, menangis dan mengurung diri di kamar selama berhari-hari. Sama seperti Miss Colombia yang kehilangan kehormatan yang baru diraihnya, rasa bangga yang dipeluknya tidak lebih dari dua menit itu, mahkota yang baru dipakainya yang harus diserahkan kembali ke pemilik lainnya tidak dalam hitungan tahun. Melepas kancing perekat selempang bertulis Miss World yang baru tersampir bersama rasa bangga, hancur tiba-tiba.


Kalau dipikir-pikir, nasib Miss Kaltim 2014 ini masih jauh lebih beruntung dibanding Miss Colombia. Meski saat ini juga didera malu dan memalukan. Tapi setidaknya dia memiliki mahkota dan selempang ke-miss-annya sepanjang masa edar waktu yang wajar. Sampai terpilihnya Miss Kaltim berikutnya, barulah mahkota itu diserahkannya. Namun, hanya gara-gara dia rela menyerahkan mahkota lainnya yang jauh lebih berharga dari mahkota apapun di dunia ini, masih layakkah dia disebut Miss dan mengenang semua sebagai sesuatu yang membanggakan. Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Karena boleh jadi, gelar Miss-Miss-an itu justru untuk menambah nilai jual Miss V yang menjadi aset bernilai miliknya. Walaupun, kalau saja pria-pria itu sedikit menghargai kewarasan otaknya, siapapun perempuan pemiliknya, rasa dan fungsi Miss V itu tetaplah sama. Hal yang mungkin beda, paling-paling hanya sedikit sensasi. Ya, sensasi! ()

No comments:

Post a Comment