Tuesday, 12 January 2016

Handphone Gusdur Juga Pernah Dicuri Porter

PARA pengguna pesawat saat ini sedang tersita perhatiannya dengan kasus temuan CCTV yang merekam kejadian seorang porter maskapai murah meriah yang paling laris saat ini, sedang membedah isi tas penumpang yang ketahuan membawa barang berharga. Bermodal sebatang pulpen, dengan mudah sang porter merobek badan tas penumpang dan mengeluarkan isi di dalamnya. Mengamankan dengan cekatan sebuah benda kecil, mungkin cincin, mungkin kalung, atau sejenis barang mahal lainnya ke dalam mulut. Untuk barang yang lebih besar dan tidak mungkin cukup ditaruh dalam mulut, disimpannya dengan sangat rapi dan tersembunyi dibalik pakaian.

Semua mata tertuju pada layar televisi yang menayangkan rekaman tersebut. Pada rekaman berikutnya, sekelompok polisi beraksi melakukan penangkapan beberapa porter. Rupanya ada beberapa porter yang juga melakukan aksi serupa namun tidak tertangkap oleh peralatan mata-mata yang diciptakan Walter Bruch asal Jerman tahun 1945 untuk mengamati peluncuran roket V-II.

Akan halnya warga Jerman yang begitu antusias menyaksikan kemajuan teknologi mereka, rakyat Indonesia pun demikian pula. Menyaksikan betapa durjananya kelakuan para porter yang seharusnya menjaga barang yang dititipkan pada mereka untuk diurus dengan penuh tanggungjawab. Jangankan mereka yang bolak-balik bepergian dengan pesawat. Mereka yang jarang, atau sama sekali belum pernah bepergian dengan pesawat kecuali hanya sesekali menyempatkan berhenti sejenak di dekat bandara dan mendongak ke atas ketika kebetulan sebuah pesawat melintas di atas kepalanya, turut pula menyimak dengan serius berita heboh tersebut.

Entah apa yang ada dibenaknya. Jika suatu hari kelak mendapat kesempatan naik pesawat itu. Mungkin tak satu barangpun bakal dititipkan di bagasi. Walau hanya selembar pakaian dalam. Atau jangan-jangan dia langsung bersumpah dalam hati, tak akan sekalipun mau naik pesawat dari maskapai itu seumur hidupnya, kecuali digratiskan.

Banyak pula yang berkomentar dan memaklumi dengan menghubungkan kepantasan sebagai maskapai bertarif murah. Sehingga pelayanannya jelek. Petugas-petugasnya bergaji rendah dan terpaksa mencari penghasilan tambahan dari jalur yang tidak wajar. Coba mereka dikasih gaji tinggi dan memperketat seleksi penerimaan, sehingga yang diterima di maskapai itu hanyalah mereka yang memang benar-benar berakhlakul karimah.

Lihat saja akhlak mereka yang diterima di maskapai itu, rata-rata di bawah rata-rata. Bukan cuma pegawai rendahan yang jadi porter. Mereka yang berada di level tinggi dan biasa berada di ketinggian atmosfir pun, pernah diterpa berita yang macam-macam. Dan apakah ini memang sebuah kebetulan, kejadian memalukan ini juga terjadi di maskapai yang, diakui ataupun tidak, banyak berjasa dengan masyarakat Indonesia dengan tiketnya yang super terjangkau itu.

Cerita tentang seorang kapten pilot yang mengumumkan sesuatu lewat pengeras suara di kabin pesawat kepada penumpang dengan suara yang diselipi desahan-desahan, laiknya seorang suami yang sedang keenakan dimanja istrinya di malam pengantin, memperpanjang daftar hitam maskapai ini. Kejadian ini kemudian dilaporkan oleh seorang penumpang dan sempat menjadi pemberitaan yang menghebohkan. Menurut dugaan, sang pilot dan pramugarinya ini memang lagi asyik masyuk. Indehoi dalam kondisi pesawat dalam keadaan stabil di cuaca yang sedang sangat bersahabat dalam penerbangan, memang jadi sesuatu yang menantang adrenalin.

Pikir sang pilot, dari pada nggak ada kerjaan, mending ngerjain sesuatu bersama pramugari. Walhasil, konsentrasi yang harusnya tetap tertambat pada tuas-tuas pengendali pesawat yang jumlahnya tidak sedikit itu teralihkan ke “tuas” lain yang justru kini dikontrol sepenuhnya oleh tangan lembut sang pramugari, dengan penuh seksama, dan dalam tempo yang senikmat-nikmatnya. Dan di luar kesadaran, ketika pada saat yang bersamaan dia tiba-tiba teringat pula akan kewajibannya mengumumkan sesuatu yang maha penting. Celakanya, sang pilot sudah tak sanggup lagi mengontrol pitch suaranya dengan sempurna. Maka yang terucap kemudian justru desahan-desahan yang membawanya pada ujung kesialan. Dipecat dari pekerjaan karena dilaporkan salah seorang penumpang.

Belum lagi sederet aib yang dibukukan maskapai ini oleh polah para pilot dan pramugarinya yang kedapatan berpesta sabu, di hotel dan di dalam kokpit pesawat. Pada saat pesawat sedang berada di sela awan. Sungguh menggemaskan kelakuan mereka.

Sebelum prilaku layak sensor ini sempat menghebohkan jagat pemberitaan di alam nyata maupun di dunia maya, kejadian serupa juga pernah terjadi. Hampir tidak berjarak jauh dari heboh desahan sang pilot ini. Sebuah maskapai penerbangan di luar negeri juga dilaporkan penumpangnya karena pilotnya malah berbuat lebih parah. Mengumumkan iklan berlabel XXX. Kalau di penerbangan tanah air terbiasa dengan iklan jualan produk seperti jam tangan, baju, parfum, miniature pesawat maupun aksesoris lainnya yang dijual dan diumumkan oleh pramugari di tengah penerbangan. Kalau ini, di maskapai penerbangan luar negeri ini, si pilot malah menawarkan pramugarinya untuk dinikmati oleh penumpang yang ingin merasakan kehangatan seksual dari sang pelayan penerbangan. Tempat eksekusinya dimana lagi kalau bukan di pantri belakangan, kokpit pilot, dan WC pesawat.

Pantas saja, kata seorang yang pernah ikut menumpang di pesawat ini, ketika dia ingin buang hajat, pintu WC pesawat mendadak sulit dibuka dan dia pernah mendengar suara-suara aneh dari dalam ruangan kecil berpenutup bahan dari alumunium tersebut.

Kembali ke cerita pencurian barang berharga yang dititip di bagasi pesawat. Sesungguhnya ini bukanlah kejadian baru dan di pesawat yang katanya bertarif murah, dan dipantas-pantaskan dengan memberikan pelayanan seadanya. Saya pernah mengalaminya justru di pesawat plat merah. Tarifnya pun tidak biasa. Lumayan menguras isi kantong. Waktu itu sekitar tahun 2003. Saya pernah melakukan perjalanan cukup jauh dari kampung saya di Kalimantan menuju ke daerah terujung negeri ini, Jayapura. Maskapai yang ada saat itu cuma dua yang melayani penerbangan kesana. Kedua-duanya berplat merah. Dan saya tentu saja memilih yang termurah diantara keduanya.

Mungkin karena selalu lebih murah dibandingkan maskapai milik BUMN yang satunya, maskapai yang saya tumpangi itu, sekarang sudah tidak bisa terbang lagi. Sudah bangkrut, tutup dan tidak lagi melayani penerbangan untuk rute manapun di dunia ini. Anda pasti sudah bisa menebaknya. Maskapai apakah gerangan yang saya maksud.

Sesuai rutenya, saya terbang di sore hari dan baru tiba di Sentani Jayapura pagi harinya. Melalui rute-rute transit dari Banjarmasin menuju ke Surabaya dulu, kemudian melanjutkan ke Ujung Pandang, Ujung Pandang ke Biak, dari Biak barulah tiba di Bandara Sentani Jayapura pada pukul 8 pagi. Karena kelelehan, ketika mengambil bagasi saya sama sekali tidak menyadari tas yang saya titip di bagasi sudah tidak sempurna. Barulah sampai di rumah kerabat di Jayapura Utara, ketahuan ada salah satu tas yang robek di bagian dekat resleting. Robeknya tidak terlalu lebar, sehingga tidak ada barang atau pakaian yang muntah dari dalamnya, kecuali sebuah handphone nokia 3310 yang sebenarnya sudah saya balut sedemikian rupa dan seharusnya aman diantara susunan pakaian.

Kotaknya masih dalam kondisi terbungkus rapi. Maklum, itu adalah barang pesanan kerabat yang minta dibelikan di Banjarmasin yang harganya tentu jauh lebih murah ketimbang di Jayapura. Tapi ketika saya buka, isi dalamnya telah lenyap. Handphone raib. Saya tidak tahu apa maksud si tikus bandara itu sampai harus berbaik hati menyisakan hanya kotaknya. Mestinya, dia mengambil saja seluruhnya agar bisa dijual dengan harga yang lebih mahal. Atau mungkin dia kelupaan bawa tas kresek saat mencuri, sehingga agak kerepotan jika harus menyembunyikan handphone beserta dus-nya di balik baju.

Ketika itu Nokia 3310 bukanlah barang murah. Karenanya saya bertekad mendapatkan kembali barang saya yang hilang. Yang jelas bukan dengan jalan membelinya lagi. Satu-satunya upaya, ya saya harus komplain. Sanak kerabat sempat menyarankan untuk tidak usah complain apalagi lapor polisi, sia-sia kata mereka. Tapi saya tetap berusaha.

Hal pertama yang saya lakukan adalah, mencari tahu, dimana kantor maskapai terdekat. Setelah tanya kesana kemarin, akhirnya ketemu di Jl A Yani 15 Gurabesi Jayapura Utara kalau tak salah. Karena tidak terlalu jauh, saya datangi siang itu juga. Saya minta bertemu dengan pimpinannya. Dipertemukanlah oleh staf di sana dengan pimpinan mereka yang sungguh baik hati setelah tahu kalau saya seorang wartawan.

Saya lupa nama beliau. Kalau tak salah Nasruddin. Orang Ujung Pandang. Saya keluhkan kepadanya, bahwa saya baru saja kehilangan handphone yang saya letakkan di dalam tas. Bukti tas yang robek dan kotak Nokia yang disisakan maling ternyata berguna, sebagai barang bukti. Dengan tidak banyak berkilah, dia berjanji akan mengganti kehilangan barang saya.

Sambil berbincang-bincang, dia cerita, kalau kejadian ini bukanlah kejadian yang pertama dialaminya selama bertugas. Dia mengakui memang banyak porter yang nakal terutama yang bertugas di salah satu bandara di jalur rute penerbangan dari Surabaya ke Biak. Bukan hanya orang kecil seperti saya yang pernah mengalaminya. Orang yang menempati jabatan tertinggi di negeri ini pun pernah juga bernasib serupa. “Dulu, Gusdur (saat masih menjabat sebagai Presiden RI) pernah kehilangan hanphonenya saat berkunjung ke Jayapura,” katanya.

Tahun dan tanggal pasti kapan peristiwa itu terjadi, Nasrudin memang tidak menyampaikannya secara detil. Dan saya pun ketika itu tidak berusaha mengejarnya dengan pertanyaan-pertanyaan standar seorang jurnalis. Namun yang pasti seingat saya, peristiwa itu menurut cerita Nasrudin, terjadi ketika Gusdur masih menjabat sebagai Presiden ke 4 RI, saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Jayapura. Selama menjabat sebagai presiden, Gusdur memang sempat beberapa kali melakukan kunjungan ke bumi Cenderawasih.

“Anda bayangkan sendiri, bagaimana sulitnya mengganti handphone beliau. Kami sampai harus memesan langsung ke pabrik pembuatnya, sebab barangnya limited edition dan hanya dibuatkan khusus untuk beliau dari pabrikannya,” ujarnya lagi.

Diterangkannya, handphone itu tidak seperti nokia kebanyakan, karena dibuat khusus untuk membantu memudah Gusdur berkomunikasi. Dengan rancangan khusus tadi, saya yakin, si pencuri akan kesulitan menjualnya. Pertama, pengoperasiannya tentu beda, sebab handphone tersebut sengaja dibuat untuk Gusdur. Kode-kode, tombol, dan segala macamya pastilah hanya si penggunanya yang tahu. Selain itu, kalau dia menjual, akan segera terlacak, dan hukumannya pastilah sangat berat.

Saya jadi membayangkan, si pencuri hanya akan menyimpan saja barang tersebut sampai sekarang, sebagai kenang-kenangan. Tanpa pernah tahu siapa pemilik handphone unik tersebut. Atau boleh jadi, setelah si maling, atau si pemegang terakhir handphone misterius itu membaca tulisan saya ini, baru sadar, kalau handphone yang mungkin saja sudah diberikan dan hanya dijadikan mainan oleh anaknya ini sangat bernilai, karena pernah dimiliki seorang presiden. Sampai akhirnya muncul ide brilian, karena biasa begitu, maling sering dianugerahi otak yang encer. Menjual barang rongsokan yang ternyata “berlian” itu secara rahasia kepada kolektor dengan harganya yang tentu saja tidak murah. Dan seratus atau dua ratus tahun yang akan datang, barang ini di pasar lelang akan di lepas dengan harga yang fantastis dan diberitakan oleh seluruh media massa di dunia. Bahwa telah terjual sebuah barang yang sangat antik, langka, tidak pernah dimiliki duanya oleh orang lain dengan harga yang sangat-sangat fantastis.

Sepanjang yang saya ketahui, dan saya searching di dunia maya, memang belum pernah ada satupun berita yang menuliskan tentang kehilangan handphone milik mantan presiden ini. Harusnya saya menuliskannya saat itu, sebab info ini sangat menarik dan memiliki news value istimewa. Tapi karena waktu itu saya dibelit urusan yang sangat menyita perhatian, dan di sisi yang lain, waktu itu saya hanyalah seorang wartawan muda yang belum memiliki insting kuat sebagai seorang jurnalis, saya akhirnya lalai menuliskannya. Baru setelah 14 tahun, peristiwa itu teringat sekarang setelah terpicu tayangan CCTV tentang pencurian barang bagasi oleh sekomplot porter nakal.

Seandainya waktu itu, saat Gusdur masih menjadi orang nomor satu di negeri ini, informasi itu sempat bocor, saya rasa akan banyak pihak yang merasa malu. Pertama maskapai yang bersangkutan, kedua Paspampres, mengapa hanya untuk mengamankan tas dan barang berharga milik presiden kok bisa kecolongan. Ketiga, mungkin juga, Gusdur telah merelakan barang tersebut hilang dan tidak memerintahkan untuk mencarinya lagi. Tapi yang jelas, Nasrudin mengaku telah memesannya dan menggantikannya sesuai dengan spek langsung ke pabrik asalnya di luar negeri. Dan itu cukup membuat dia mempertaruhkan segalanya; uang, jabatan dan nama baik. (m ramli arisno)

Artikel yang sama juga bisa dibaca pada: ramliarisno.blogspot.co.id
























No comments:

Post a Comment