Friday, 11 December 2015

Gurihnya Black Campaign

ANDA boleh gusar jika ada yang menggosipkan Anda dengan hal-hal jelek. Atau ada yang tahu rahasia yang Anda telah disimpan rapat-rapat, kemudian dibongkar dan diumum-umumkan di sosial media.

Di musim Pemilu, apapun jenisnya, mulai Pemilu legislatif, presiden, sampai pemilu kepala daerah (Pilkada) Serentak yang baru saja berlangsung 9 Desember 2015 kemarin, istilah black campaign menjadi hal yang paling dihindari. Tapi tahukah Anda, black campaign tidak harus selalu berbuah kejelekan.

Bagi sebuah kelaziman, orang yang tertimpa black campaign logikanya pasti akan terpuruk. Nama baiknya akan hancur, reputasinya bakal jelek, lebih-lebih karir politik. Seorang tokoh yang sedang terserang black campaign, biasanya akan jatuh tersungkur. Tidak sedikit petahana yang ambruk dihantam badai ini. Dan kondisi seperti ini tentu amat digemari oleh para lawan politiknya. Bahkan tidak sedikit yang sengaja membangun strateginya dengan mengkondisikan demikian.

Demi kentut Dewi Fortuna yang berhembus kancang di Pilkada Serentak tahun ini. Mereka yang tertimpa black campaign justru mendapat suara terbanyak dan merajai perolehan suara Pilkada. Taruhlah, nasib yang dialami Pasangan Calon Nadmi-Jaya yang mencalonkan diri sebagai Calon Walikota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Sejak beberapa bulan sebelum pencobolosan, pasangan ini sudah diuji dengan namanya black campaign. Berangkat dari penggorengan ulang berita lama yang pernah diangkat banyak media soal kedekatan Darmawan Jaya dengan Lihan, terpidana kasus bisnis investasi yang ambruk di penghujung tahun 2009 silam dan meninggalkan banyak investor yang belum dikembalikan haknya.

Dimulai dengan diangkatnya berita lama itu dan disusul beredarnya foto-foto Jaya bersama Lihan di internet, yang di push dari website Banjarbaru Highlight. Hingga, jelang beberapa hari sebelum pencoblosan.

Upaya yang dilakukan makin gila dan massive. Yaitu dengan menyebarkan selebaran-selebaran yang mengangkat materi black campaign yang serupa dengan di internet, dengan mengekpose besar-besaran foto kebersamaan Jaya dan Lihan ke kampung-kampung. Tapi apakah Nadmi-Jaya tersungkur? Tidak. Malah perolehan suaranya di luar dugaan.

Black campaign justru menjadi semacam iklan gratisan yang menuai suara dukungan buat mereka berdua, karena sebagian besar warga bersimpati dengan nasib Jaya yang dianggap sedang teraniaya.

Jaya bukan satu-satu contoh "korban" black campaign yang malah menuai suara dukungan. Di Pilkada serentak lain kota, Pasha Ungu bersama pasangannya yang bertarung memperebutkan posisi calon wakil walikota Palu. Posisi Pasha persis seperti Jaya, sama-sama dibidik isu, dan sama-sama menjadi calon wakil walikota. Betapa gencarnya isu foto mesra dirinya dengan artis Angel Caramoy menghias layar kaca hampir seluruh stasiun televisi.

Sungguh dahsyatnya, sampai-sampai saya termasuk yang meyakini, black campaign seperti ini akan berdaya dobrak tinggi untuk menjatuhkan karir politik keduanya. Kalau tidak hancur lebur, ya setidaknya pada Pilkada kali ini dia kehilangan banyak suara. Tapi ternyata saya keliru. Pasha Ungu yang berpasangan dengan Hidayat ini justru memang mutlak dari lawan-lawan politiknya.

Fenomena ini tentu akan jadi kajian menarik untuk diteliti. Sangat boleh jadi, fakta ini nantinya bakal jadi bahan yang sangat layak untuk desertasi para kandidat doktor politik di tanah air. Walaupun, kecenderungan seperti ini di ranah yang berbeda, sudah  menjadi hal biasa.

Misalnya, kampanye larangan merokok dengan mencantumkan daftar penyakit mematikan di bungkus rokok yang tidak kunjung membuat penikmatnya menghentikan kebiasaan merokok. Bahkan terkini, "black campaign" anti rokok ini sampai mewajibkan produsen rokok menyantumkan foto-foto "menjijikan" para korban nikotin yang sampai berlubang tenggorokannya,  paru-paru menghitam yang hanya dibingkai tulang tengkorak dada penderitanya. Sampai foto seorang ayah merokok sambil menggendong bayi, yang harusnya perlu diperdebatkan lagi, apakah penyantuman foto bayi seperti itu diperbolehkan secara etika.

Lantas apakah perokok menjadi berkurang dengan kampanye dan penyebaran foto-foto mengertikan seperti itu? Anehnya justru tidak. Penikmat rokok, berdasarkan survei-survei justru meningkat tajam. Makin banyak perokok pemula di kalangan remaja dan anak-anak yang malah penasaran ingin mencoba.

Kampanye serupa, yang awalnya untuk mencegah masyarakat mendekati lokalisasi, dengan memasang pengumuman besar-besar di depan jalan masuknya: "Dilarang Melakukan Tindak Prostitusi di Kawasan Ini" justru membuat warga yang sebelumnya tidak tahu dan juga malu bertanya arah jalan masuk ke tempat "begituan", jadi tahu. Menjadi makin semaraklah lokalisasi dengan penikmat-penikmat baru.

Saya sampai kepikiran begini, ketika jagat infotainment dihebohkan dengan kasus prostitusi online yang melibatkan artis-artis ternama, harusnya para artis yang memang memiliki usaha sampingan melayani "kepuasaan" penggemar rahasia mereka, tidak mencak-mencak. Karena sesungguhnya ini iklan gratis yang menguntungkan. Karenanya tidak perlu memasang iklan mahal-mahal di koran kuning, atau iklan televisi di waktu-waktu primetime.

Ketika wartawan mengkonfirmasi, akui saja, kalau perlu sambil menyebutkan tarif yang lebih mahal dari tarif aslinya. Sehingga ketika ditelepon pejabat atau pengusaha yang mau ngajak ngamar, mereka tidak perlu berpanjang negosiasi harga. Cukup bilang: "Anda pernah nonton tv 'kan. Nah, tarif saya segitu, tidak kurang tidak lebih. Titik."

Tidak perlu malu. Toh, Ariel Peterpan yang kini jadi Ariel Noah tetap tidak kehilangan penggemar walau video "ah-uh"nya bersama Luna Maya dan Cut Tari mendunia. Malah, jangan-jangan sekarang, banyak wanita, terutama yang berduit, penasaran sambil mengkhayalkan rasanya bersama Ariel. Tinggal Anda, berani atau tidak berjudi dengan nama baik. Kalau berani, tak ada salahnya dicoba. Terutama bagi yang lima tahun mendatang mencoba peruntungan di dunia politik.

Anda tinggal menyebar-nyebarkan aib sendiri, dengan harapan rakyat bersimpati karena menganggap Anda telah di-blackcampaign-kan musuh politik dan harus dikasihani. Tapi, apakah Anda pasti akan seberuntung Jaya dan Pasha. Atau jangan-jangan Anda bunuh diri sekaligus menggali kuburan sendiri. ()

No comments:

Post a Comment