Saturday, 19 December 2015

GOsex, Bukan Gojek Biasa

BERSANTAI sembari menikmati teh di sore hari memang bisa memancing keluar ide-ide yang tersembunyi di alam khayal. Walau kadang yang muncul malah bukanlah ide yang membangun, bernilai positif, apalagi berakhlakul-karimah, yang dapat mengubah sesuatu dari keterbelakangan menjadi kemajuan. Bahasa gaulnya, dari zero menjadi hero.

Bersama beberapa teman yang gokil-gokil, dimulailah perbincangan tentang fenomena Gojek. Dengan bantuan aplikasi layanan berbasis sosial media, moda transportasi yang cukup banyak diminati di ibukota karena kepraktisan dan kecepatannya karena kemampuannya menembus jalur-jalur macet yang tidak bisa ditembus taksi dan mobil angkutan umum lainnya, Gojek menjelma menjadi sebuah kekuatan yang menimbulkan kecemburuan banyak pihak. Terutama dari mereka yang berusaha di bidang bisnis yang sama. Sama-sama di bidang jasa angkutan, baik sesama tukang ojek, maupun moda angkutan lainnya.

Belakangan, “kecemburuan” serupa bahkan juga diperlihatkan kementerian yang mengurusi, salah satunya masalah angkutan. Apalagi kalau bukan kementerian perhubungan. Menteri Ignasius Jonan sampai sempat melarang beroperasinya Gojek ini, walau kemudian mencabut kembali keputusannya karena mulai gaduh di media massa. Tapi, sore itu, kami tidak sedang ingin memperbincangkan tentang aksi Jonan yang ingin memadamkan kepulan asap dapur rakyat kecil yang berusaha mencari hidup dari bisnis angkutan roda dua tersebut.

Seorang kawan yang memiliki kegilaan di bidang IT mengatakan, bahwa itu semua karena ada seseorang yang melihat internet sebagai sebuah peluang. Ketika digandengkan dengan kebutuhan masyarakat yang selalu ingin dimudahkan dalam bertransaksi, maka Gojek muncul sebagai sebuah solusi yang aplikatif.

Betapa mudahnya dengan aplikasi Gojek, seseorang yang ingin bepergian ke suatu tempat, dengan ongkos terjangkau, aman, dan cepat karena hampir selalu mampu menghindari kemacetan, dapat memesannya dari tempat tidur di kamarnya. Mengapa bisa memesannya dari tempat yang paling pribadi tadi, karena cukup membuka smartphone yang sebelumnya telah mengunduh aplikasi tersebut, ojek dengan siap sedia datang ke tempat pemesannya dan mengantarkan ke lokasi yang dituju.

Mengapa aman, karena anggota Gojek sudah terdata, mengenakan seragam dan mengikuti aturan-aturan tertentu. Dan yang jelas, kata teman yang pernah mencicipi pelayanan Gojek ini, tukang ojeknya tidak bau. Tidak seperti, maaf, tukang-tukang ojek kebanyakan. Memang tidak semua tukang ojek di luar Gojek bermasalah dengan bau badan, bau keringat, bau apek rambut yang nempel di helmnya, tapi mungkin karena komunitas Gojek saja yang ingin lebih mempertahankan imej mereka sebagai profesi yang lebih profesional dan bertanggungjawab, karena mereka menggenggam merek dagang atau brand tertentu.

Ongkosnya terjangkau karena ter-list dengan baik. Jarak sekian, ongkosnya sekian. Tidak ada anggota Gojek yang mengakali konsumennya dengan menaikkan tarif lebih di luar kesepakatan awal. Kalau ojek lain, kadang dengan alasan tidak memiliki uang kembalian, atau dengan alasan telah melewati rute dan medan yang sulit, tiba-tiba menaikkan ongkos dengan semena-mena.

Pada perkembangannya, Gojek malah sekarang tidak hanya mengantarkan orang. Tapi juga dapat digunakan sebagai jasa antar barang. Misalnya, kalau kita ingin mengirimkan sebuah barang ke suatu tempat, kita cukup memanggil Gojek dan meminta yang bersangkutan mengantarkannya ke tempat yang dituju. Maka barang akan terkirim dengan tepat dan cepat.

Kalau alamat yang dituju hanya di satu kota atau di satu daerah, waktu yang dibutuhkan tidak sampai melewati satu jam. Jauh lebih efektif ketimbang menggunakan jasa ekspedisi yang ada sekarang. Untuk tujuan yang berada di satu kota atau satu provinsi, paling cepat satu hari. Artinya, barang diposkan pagi, maka paling cepat sore hari baru sampai. Itu paling cepat. Terkadang, ada yang sampai besok baru sampai. Tergantung ongkos kirim.

Nah, soal ongkos kirim juga. Mengirim barang melalui jasa Gojek, tarifnya lebih terjangkau. Ongkosnya, katanya jauh lebih murah dari mengantarkan orang. Karena mengantarkan barang pesanan orang, kadang juga bisa disambi dengan sambil mencari atau menjemput tumpangan di daerah yang mungkin berdekatan dengan daerah tujuan pengiriman barang tadi.

Dari perbincangan yang sedikit agak serius tadi, bergeserlah menjadi perbincangan ke arah yang agak nyerempet-nyerempet ke arah perbincangan yang hanya disukai oleh kaum pria. Apalagi kalau bukan soal seks. Dengan tema yang tidak terlalu jauh dari aplikasi, seorang teman berandai-andai membuat aplikasi serupa. Melayani jasa tertentu yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Kalau membuka jasa angkutan lagi seperti ojek, rasanya kurang seru. Susul menyusul usulan disampaikan, dari aplikasi untuk jasa mengantar anak sekolah, pengantar manula ke Puskesmas, hingga jasa antar jemput objek-objek pemuas sex, mengantar alat bantu sex, obat kuat, sampai jasa pelayanan sex.

Diberilah nama aplikasi tersebut GoSex. Memang frasenya tidak jauh-jauh amat Gojek yang kita bahas sebelumnya. Jasa yang dilayani pun serupa, jasa mengantarkan alat pemuas sex, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Baik benda mati yang seolah-olah dapat hidup dan bernyawa seperti aslinya, maupun alat pemuas sex yang hidup, bernafas, mendesah, berinteraksi, berkemampuan negosiasi, tawar menawar tarif, lihai menagih uang tips sambil merengek-rengek dan lain-lain.

Masih sama-sama saling mengkhayal, ada juga seorang kawan yang mengusulkan untuk membuat website khusus selain membuat aplikasi. Menu-menu di dalamnya dibuat beragam, agar para pengguna dapat memilih sesuai kebutuhan dan ketersediaan sarananya. Bagi pengguna yang bisa atau suka berkomunikasi lewat layanan BBM, mereka bisa memilih menu BBM. Begitu seterusnya bagi yang hanya atau suka dengan jenis aplikasi sosial media lain, seperti Whatsapp (WA), Facebook, Twitter, Miaw, dan lain-lain, bisa menggunakan sarana itu. Dengan masing-masing ditambah akhiran sex di belakangnya, menjadi BBMSex, WASex, FacebookSex, TwiterSex, dan lain-lain. Untuk melengkapi aplikasi GOSex yang telah dibuat.

Mereka yang sudah mengunduh aplikasi GOSex ini dapat dengan mudah memesan layanan yang mereka butuhkan. Untuk menjaga agar aplikasi ini tidak digunakan oleh mereka yang masih belum cukup umur, usia pun dibatasi. Faktor usia ini akan disertakan saat registrasi dan menjadi persyaratan tambahan bagi yang ingin menggunakan aplikasi dari kami.

Soal stok “barang”, jangan khawatir, karena markas besar GOSex ini rencananya bertempat di Kota B*n*a*b*ru, yang memiliki Lokalisasi yang cukup legend di provinsi ini, soal stok tidak masalah. Belum lagi stok dari daerah lain yang juga memiliki basis-basis “daerah merah” sendiri yang tidak kalah dari segi jumlah maupun kualitas pelayanannya. Apalagi, GOSex ini aplikasi yang terbuka, mereka yang mendaftar menjadi anggotanya tidak melulu hanya menjadi user atau pengguna. Bagi perempuan-perempuan yang ingin membuka lapaknya di aplikasi GOSex pun diberikan ruang yang sama.

Karena layanan jasanya GOSex yang lebih bersifat membantu, memfasilitasi, dan jasa pengiriman khusus, maka kami (dalam khayalan), membuka juga lapangan pekerjaan bagi para tukang ojek maupun pengangguran yang memiliki motor dan SIM C untuk berpartisipasi. Mereka juga diharuskan mengenakan seragam dan tanda pengenal, untuk mencegah terjadinya aksi kejahatan yang bisa terjadi dengan mengatasnamakan GOSex.

Kalau di Jakarta Gojek mengenakan seragam hijau-hijau, maka GOSex akan menggunakan seragam putih-putih biar sedikit elegan. Dan tinggal dimodif sedikit saja bisa menjadi seragam perawat jika sewaktu-waktu diperlukan untuk penyamaran. Misalnya, ketika tiba-tiba ada seorang suami yang menggunakan jasa GOSex kepergok istrinya, dia bisa beralasan kalau ia sedang numpang seorang perawat menuju rumah sakit, memeriksakan jantungnya yang mendadak sakit.

Begitupun dengan perempuan-perempuan yang ingin membuka lapak di GOSex, wajib menyertakan identitas mereka yang asli. Ini untuk menghindari penipuan dan pelacuran anak di bawah umur. Anggota GOSex juga wajib memperlihat surat pernyataan bebas dari penyakit kelamin yang diperbarui secara berkala. Khusus untuk keanggotaan GOSex yang membuka lapak (bukan user), berlakunya tidak seumur hidup karena harus diperbarui setiap tahun.

Khayalan berlari liar kemana-kemana. Dan baru berakhir ketika teh di cangkir tandas tanpa sisa. ()




1 comment: