Saturday, 17 October 2015

Satu Antrean di Depan Ruzaiddin

SAAT mulai menulis coretan ini sebenarnya saya agak khawatir dengan anggapan banyak orang yang mungkin menuduh saya sedang ingin mempengaruhi orang untuk memilih Ruzaiddin menjadi walikota kembali. Bukan, sama sekali bukan. Saya hanya ingin berbagi hikmah. Dari sebuah sikap mulia yang harusnya dapat dijadikan contoh oleh siapapun di kolong langit ini.

Kisah seseorang yang sedang berada di puncak karir gemilangnya, namun tidak lantas angkuh, dan tetap rendah hati. Padahal di posisinya sekarang untuk menjadi tinggi hati sekalipun, orang akan tetap bisa memakluminya. Tapi dia tidak mengambil sikap ini. Dia justru mengambil jalan sunyi, untuk tetap menjadi biasa-biasa saja dan menganggap jabatan mewah yang tersampir di pundaknya bukanlah sesuatu yang dapat membuat jarak antara dirinya dengan manusia lain.

Pantaslah, sebagian orang pernah bilang, Ruzaiddin itu sesosok orang yang terus mencoba menjadi malaikat untuk orang sekitarnya. Memang bukan selalu untuk menolong, tetapi seorang malaikat yang menginspirasi banyak orang.

Ada peristiwa yang sangat berkesan bagi saya, ketika sedang antre di sebuah bank dekat SPBU COCO Banjarbaru. Sebelum pindah ke tempatnya yang sekarang di km 34, bank tersebut memang selalu bikin kesal. Bukan saja karena area parkirannya yang selalu penuh sampai memakan badan jalan dan membuat macet lalu lintas ketika melewati jalur itu, tapi juga antrean nasabahnya yang panjang dan membuat kesal setiap orang yang sedang berurusan di bank tersebut. Tentu saja saya salah satunya. Saya salah satu nasabah yang sempat kesal lantaran antrean yang selalu mengular.

Untuk berurusan menarik atau menyetor uang saja, semua nasabah harus rela berdiri mengantre. Iya, berdiri, berbaris seperti masa anak-anak bermain permainan ular naga. Tidak duduk di kursi seperti sekarang, sambil memegang kupon antrean dan menunggu nomor kita dipanggil. Untuk menyetor atau menarik uang yang sebenarnya adalah uang mereka sendiri saja sampai harus mengantre sedemikian rupa, kayak rakyat yang hidup di orde lama dulu yang saya pernah lihat di layar televisi atau film dokumentasi nasional, yang mempertontonkan pemandangan orang-orang berkain tepung yang antre beras.

Saya maklum, ketika itu kondisi perekonomian Indonesia sedang morat-marit tidak karu-karuan. Tapi sekarang beda urusan, kondisinya sama sekali tidak seburuk itu. Mereka yang mengantre ke bank itu, tentu saja orang yang berurusan dengan uang mereka sendiri. Sebagian besar malah orang kaya, berduit. Apalagi ketika itu, seingat saya sekitar tahun 2012, bukanlah berada dalam kondisi krisis, dimana ekonomi berjalan cukup baik, normal dan stabil. Tapi ini kok masih ada antrean, bahkan untuk urusan menabung uang. Ini sungguh keterlaluan menurut saya.

Tapi apa boleh buat, saya toh tetap ikut antrean. Namanya juga antre, datang belakang, harus rela mengantre di urutan paling belakang. Yang lebih membuat saya ngilu itu, antrean di depan saya, panjangnya minta ampun. Kalau saya hitung-hitung, ada sekitar 14 orang di depan saya. Kondisi ruangan yang sempit membuat pengantre harus rela berbaris berkelok-kelok mengikuti pita merah yang dipasang petugas bank.

Sesuatu yang membuat sabar hanyalah paras-paras menarik petugas bank yang selalu mengumbar senyum dan AC ruangan berpewangi yang terus hidup. Untuk membayangkan listrik dan AC yang mendadak padam saja sungguh dapat membuat saya lemas dan menyerah.

Kondisi yang serba menjemukan itu tak ayal membuat saya jadi mengkhayal yang bukan-bukan. Misalnya membayangkan enaknya jadi pejabat atau orang penting. Kalau saya pejabat, tentulah tak perlu sampai mengantre sedemikian. Atau mungkin asyik juga seandainya menjadi orang kaya atau menjadi nasabah utama bank ini. Baru memarkir mobil saja sudah disambut terbungkuk-bungkuk oleh sekuriti dan pimpinan bank. Tak perlu capek-capek antre seperti ini.

Tapi itu tentu saja bukanlah khayalan yang mudah diwujudkan. Apalagi ketika melihat saldo di buku tabungan yang tidak lebih satu juta. Satu-satunya yang paling memungkinkan orang konyol seperti saya adalah menjadi Mr Bean. Anda pasti tahu dengan orang ini, bukan. Tokoh yang kalau main filmnya itu tak pernah ngomong. Seseorang yang diceritakan jatuh dari planet antah berantah yang selalu bertindak konyol dan tidak jarang malah beruntung dengan kekonyolannya itu.

Dalam serial filmnya yang pernah tayang di sejumlah televisi dan pernah juga saya tonton di youtube, ada cerita tentang Mr Bean yang sedang antre di sebuah bioskop. Dia berada di barisan paling belakang untuk mengantre tiket. Karena ingin terburu-buru, Mr Bean berusaha mengakalinya dengan mengerjai pengantre di depannya. Entah itu dengan mencolek, merenggut barang bawaan pengantre di depannya, atau hal-hal usil lainnya yang dapat memecah konsentrasi para pengantre, sehingga dia dapat mudah menyalip posisinya sedikit demi sedikit. Begitu terus, dengan tingkah menggelikan yang cerdas, Bean sukses merangsek sedikit demi sedikit ke depan, dan berhasil menjadi berada di antrean terdepan.

Saya pikir, trik Mr Bean inilah yang paling pas untuk saya, tanpa perlu menjadi nasabah terkaya, atau menjadi pejabat yang berkuasa. Saya cukup menjadi Mr Bean, ya Mr Bean, dengan mengusili pengantre lainnya, sedikit demi sedikit merengsek maju ke depan. Tapi tunggu dulu, saya tetap harus waspada. Kalau saya saja mampu berkhayal seperti ini, orang yang di belakang saya pun pasti bisa juga. Jangan sampai saya justru yang jadi korban.

Manusiawi, sebagai bagian dari upaya pertahanan diri dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, oleh “Mr Bean” lain di belakang saya, saya perlu melakukan teknik khusus yang tidak terlalu sukar dilakukan, yang harus saya lakukan sealami mungkin. Dengan sedikit memiringkan badan, saya mencoba menengok ke belakang untuk mempelajari keadaan. Dan, astaga! Saya kaget bukan main. Di belakang saya, mengantre orang yang paling terkenal dan dihormati di kota ini. Walikota Ruzaidin.

Khayalan saya tentang beragam cara licik untuk menghancurkan barisan antrean demi untuk mempercepat maju ke antrean terdepan, buyar seketika. Hanya karena mengetahui, orang yang berada tepat di belakang saya ternyata walikota. Walikota yang terlihat begitu sabar mengantre. Padahal kalau dia mau, bisa saja meminta pegawai atau pimpinan bank untuk memberikan pelayanan istimewa kepadanya. Atau menyuruh ajudannya menggantikan dia antre. Agar ketika pas berada di depan kasir yang cantik-cantik itu, dia yang kemudian melanjutkan tanpa capek mengantre. Namun sang ajudan malah terlihat santai, berbincang-bincang dengan sekuriti di pintu masuk ruangan.

Sebagai warga kota yang tahu sopan santun, dan masih memiliki sedikit tata krama, saya menganggukkan kepala, menyalami dan mempersilakan beliau bertukar tempat dengan saya. Tapi dia hanya senyum. “Sesuai antrean saja,” katanya tegas.

Karena suara saya sedikit gaduh, beberapa orang di bank, terutama mereka yang antre di depan saya turut menengok, dan sama-sama terkejut, ternyata ada Pak Wali di belakang. Banyak juga yang kemudian menyalaminya dan berbuat seperti saya, merelakan antreannya untuk sang walikota. Tapi juga ditolaknya. Sebuah sikap yang serasa menampar muka saya.

Jauh sebelum saya menuliskan cerita ini, saya pernah juga menuturkannya pada seorang teman. Dan ternyata dia punya pengalaman yang lebih menarik. Memang masih seputar antrean.

Kata dia, dia mendapat cerita ini dari adiknya yang seorang dokter. Suatu ketika, Ruzaidin pernah berobat ke rumah sakit. Dan seperti sikapnya di bank, dia juga ikutan antre di loket pendaftaran, turut menunggu sampai namanya dipanggil untuk cek kesehatan di rumah sakit. Padahal, sebagai seorang kepala daerah, dia cukup menelepon kepala rumah sakit untuk membawanya ke ruangan khusus dan cek up di sana. Atau cukup memerintahkan kepala dinas kesehatan atau kepala rumah sakit untuk mengirimkan dokter terbaik memeriksa kesehatannya di rumah. Tapi entah mengapa itu tidak dilakukannya. Dia rela capek antre dengan wajah sedikit pucat karena sakit, dan duduk di kursi antrean yang terbuat dari alumunium. Dan sang dokter, adik teman saya itu, yang mengetahui kehadiran walikota, langsung tergopoh-gopoh mendatangi sang walikota.

Adik teman saya itu “memaksa” masuk ke sebuah ruangan untuk menjalani cek up. Tapi ditolaknya. Dia memilih antre seperti kebanyakan yang dilakukan warganya. Suasana pun mendadak ramai. Hampir semua pasien dan keluarganya berebut menyalami dan berbincang-bincang.

Cerita tentang sikap mulia seperti inilah yang ingin saya bagi, menceritakannya kepada Anda-Anda. Bukan bermaksud untuk mempengaruhi pilihan Anda di saat Pilkada nanti. Saya pun yakin, Anda tentu sudah memiliki pilihan sendiri. Saya pun, walaupun sempat terkagum dengan sikap rendah hati Ruzaidin, belum tentu di bilik suara, saya memilih dia. Saya hanya berharap begini, sikap ini juga bisa ditiru calon kepala daerah lainnya. Tepat tertib dan mau antre, membaur dengan warganya dari berbagai kalangan. Tanpa ingin meminta fasilitas istimewa, walaupun di posisi yang sebenarnya bisa melakukan apa saja.

Demikian. Saya telah belajar banyak hikmah dari kerendahan hati seorang Ruzaidin. Dan pernah berbangga, bahwa saya pernah berada di depan dan membelakangi seorang paling berkuasa di kota saya, hehehe...()

Tuesday, 6 October 2015

Kelewatan, Lagu Indonesia Raya jadi Musik Dugem

Saat buka-buka internet, saya nemu berita seperti ini di http://www.citizenjurnalism.com, judulnya: Lagu Indonesia Raya di Tempat-Tempat Dugem dengan Irama House Music. Kalau memang faktanya seperti ini, saya jadi gak habis pikir. Apa memang di dunia ini sudah kehabisan lagu yang bisa dibikin house music, sampai-sampai harus "Indonesia Raya" yang dijadikan bahan untuk musik hancur macam itu. Dimana letak penghormatan kalian terhadap lagu kebangsaan. Lama-lama salawat nabi yang kalian house music-an, atau ayat suci yang kalian iramakan seperti itu.

Lagi pula, sejak awal saya tak pernah setuju, ada lagu yang diaransemen jadi musik dugem. Bikin rusak karya orang saja. Lagu yang mestinya dihayati secara sendu, oleh house music malah dibuat jingkrak-jingkrakan. Apaan? Ini lagi, lagu Indonesia Raya, ikut pula kena nasib serupa. Lagu kebangsaan itu lagu sakral bro, komposernya pun menyandang gelar pahlawan. Lha ini, lagunya kalian bikin lagu penggiring mabok ekstasi. Apa gak kelewatan. Saya rasa, aparat harus segera bertindak!

*******

Lagu Indonesia Raya Di Tempat-Tempat Dugem Dengan Irama House Music

KUPANG — Lagu berirama house music nan menyentak kerap dijadikan pengiring orang berajojing atau dugem di tempat hiburan malam (THM) seperti diskotek. Sayangnya, lagu yang di-remix itu bukan lagu biasa, tetapi lagu kebangsaan: Indonesia Raya!

Fakta ini ditemukan sudah ditemukan di beberapa daerah di Indonesia seperti di Banjarmasin. Dari lapak-lapak penjual DVD, VCD, CD bajakan serta di antara puluhan lagu beritme enerjik di dalam keping cakram seharga Rp 5 ribu terdapat lagu ciptaan WR Soepratman yang sudah dimodifikasi oleh disc jockey (DJ). Judul yang digunakan bukan Indonesia Raya tetapi Meylan atau Meyland. Diduga itu adalah nama DJ yang mengubah lagu tersebut.

Padahal, berdasar Undang Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan tegas disebutkan lagu tersebut tidak boleh disalahgunakan oleh siapapun. Hal serupa juga ditegaskan pada Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1958 tentang Lagu Kebanggsaan Indonesia Raya.

Bagaimana di Kupang? DJ di Kupang sudah mempunyai koleksi, namun belum berani mengiringi para dugemania untuk berajojing.

Di Dancing Hall Kupang, misalnya, DJ Sound dimainkan oleh DJ Chaed. Tempat hiburan malam yang menjadi maskot hiburan di Kota Kupang ini memang tidak seramai biasanya. Namun, tempat hiburan ini akan penuh penggila dunia malam pada Jumat malam dan Sabtu malam. “Biasanya ramai juga, tapi kalau semakin malam baru ramai. Kalau Jumat dan Sabtu biasanya ramai mulai jam 10 malam sampai hampir pagi,” tutur salah seorang pengunjung.

Sementara itu, DJ Chaed terus memainkan musik elektone tersebut. Berbagai hentakan musik pun dipamerkan sang DJ untuk mengajak para audiens bergoyang di lantai dansa.

Setelah dua jam menikmati hentakan musik, tak satupun lagu kebangsaan atau lagu- lagu perjuangan yang dibawakan oleh DJ Chaed. Padahal lagu Indonesia Raya dengan versi remix kini tengah menjadi salah satu lagu pilihan beberapa DJ di tempat hiburan malam.

Pengelola Dancing Hall, Hendrik, yang ditemui, Kamis (16/5/2013) malam, mengatakan, sejauh ini pihaknya belum pernah memutar atau memperdengarkan lagu Indonesia Raya versi remix di DH, meskipun urusan lagu sepenuhnya diserahkan kepada DJ. “Kami tidak pernah yang begitu. Kami tahu tempat hiburan, jadi tak mungkin membuka lagu kebangsaan untuk acara hiburan,” tegasnya.

Sebelumnya di Love Karaoke di Jalan Soeharto Kupang, juga tidak terdengar lagu tersebut. Padahal dua DJ cantik mengawal DJ sound tempat hiburan di kawasan ruko depan Hotel Sylvia itu.

Lagu Indonesia Raya versi remix memang bukan hal baru. Meski lagu versi ini tidak mudah mencari di tokoh-tokoh kaset atau kaki lima penjual CD dan DVD, namun lagu kebangsaan Indonesia ini sudah beredar di dunia maya yang bisa di-download.

Lagu Indonesia versi remix sejauh ini masih dalam bentuk instrumen yang dimodifikasi dengan mempercepat tempo pada partitur serta dimodifikasi lagi dengan hentakan-hentakan musik disco. Sehingga lagu ini tidak lagi menjadi lagu kebangsaan yang kita kenal, tetapi sudah menjadi lagu disco dengan mengadopsi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Meski lagunya berdurasi satu menit 48 detik, namun warna musik mengubah banyak hal dari lagu aslinya. Lagu Indonesia Raya versi remix atau sejenisnya memang belum ditemukan di sejumlah tempat hiburan malam sebagai lagu hiburan. Namun bukan tidak mungkin suatu saat lagu sakral milik bangsa ini bisa menjadi lagu di tempat- tempat hiburan malam.

Kewajiban
Dalam Undang-Undang (UU) Tahun 2009 tentang Lagu Indonesia Raya sesuai pasal 58 ayat (1) UU Nomor 24 Tahun 2009 menyatakan, Lagu Kebangsaan adalah Indonesia Raya, yang digubah oleh Wage Rudolf Supratman, berisi antara lain kewajiban dan larangan. Kewajiban lagu ini; a. Untuk menghormati Presiden dan/atau Wakil Presiden; b. Untuk menghormati Bendera Negara pada waktu pengibaran atau penurunan Bendera Negara yang diadakan dalam upacara; c.

Dalam acara resmi yang diselenggarakan oleh pemerintah; d. Dalam acara pembukaan sidang paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Dewan Perwakilan Daerah; e. Untuk menghormati kepala negara atau kepala pemerintahan negara sahabat dalam kunjungan resmi; f. Dalam acara atau kegiatan olahraga internasional; dan g. Dalam acara ataupun kompetisi ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni internasional yang diselenggarakan di Indonesia.

Kewajiban lain, Pasal 65 menyatakan, warga negara Indonesia berhak dan wajib memelihara, menjaga, menggunakan Bendera Negara, Bahasa Indonesia, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan untuk kehormatan dan kedaulatan bangsa dan negara.

Penyalagunaan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya akan dikenakan sanksi. Atau setiap orang yang mengubah Lagu Kebangsaan dengan nada, irama, kata-kata, dan gubahan lain dengan maksud untuk menghina atau merendahkan kehormatan Lagu Kebangsaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 huruf a, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). (Alfred Dama)

Tiga Menit

TIGA menit itu kalau dikonversi ke detik menjadi 180. Karena satu menit adalah 60 detik, maka kalau tiga menit akan menjadi 180 detik. Tapi bukan itu yang saya bahas dalam tulisan berikut. Makna tiga menit bagi tiap orang beda-beda. Bagi wanita beda, begitu juga pria. Bahkan antar sesama wanita dan sesama pria pun, memandang durasi tiga menit itu dengan makna dan respon yang berbeda pula.

Tiga menit tentu saja tidak sebanyak 5 menit, apalagi satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, apalagi bertahun-tahun dan seterusnya. Namun tanpa tiga menit, tentunya tidak bakal mencapai 5 menit, satu jam, satu hari dan seterusnya. Tidak pernah sekalipun waktu itu tiba-tiba lompat, seperti urutan bangku pesawat yang tidak pernah mencantumkan nomor 13 di bangku pesawat. Tak pernah melompat dari dua menit langsung ke menit 4 tanpa melewati menit 3. Sekecil apapun anggapan orang terhadap tiga menit, tetap saja dia sangat menentukan.

Tiga menit tambahan waktu bagi sebuah pertandingan bola di partai yang sangat menentukan hidup mati sebuah klub bola tentu sangat menentukan. Apapun bisa terjadi dalam tiga menit waktu tambahan tersebut. Satu gol bisa saja tercipta di masa injury time. Mengubah sebuah harapan dari berharap menjadi pupus, atau sebaliknya, dari awalnya tidak berharap, menjadi sebuah kesempatan yang tidak boleh dibuang begitu saja.

Bagi petinju yang sedang bonyok di atas ring, waktu tiga menit bisa menjadi harapan sekaligus ketakutan. Siapa yang bisa jamin, seorang petinju tidak bakal terpukul KO dalam waktu tiga menit. Seorang petinju yang lengah, dapat saja tersarang pukulan di daerah mematikan dan jatuh, KO, dan tak bangun lagi. Walaupun sepanjang pertandingan di ronde-ronde awal dia sudah memimpin angka dan dipastikan bakal menang.

Seorang pelari yang sedang beradu sprint dengan pelari lain, tiga menit itu sudah terlalu banyak. Untuk jarak 100 meter, kalau harus menempuhnya dalam tiga menit, sudah dipastikan dia bakal kalah. Kecuali dia lari untuk kategori maraton.

Seorang ibu yang sedang berjuang melahirkan anaknya, terlambat tiga menit saja, jangankan tiga menit, tiga detik saja terlambat, maka dapat saja nyawa dia atau anaknya bakal terancam. Begitupun dengan seseorang yang tengah berada di ruang ICU, tiga menit, bisa saja menjadi waktu yang sangat lama untuk perjuangan mempertahankan selembar nyawanya.

Tiga menit bagi seorang wanita dan tiga menit bagi seorang pria yang sedang ML tentu berbeda rasanya. Ada yang merasa itu terlalu cepat, ada yang malah merasa itu sudah sebuah pencapaian yang maksimal dan jantan.

Bicara tentang tiga menit dan kejantanan, saya pernah punya pengalaman menarik. Suatu ketika, di waktu yang kurang tepat, saya pernah menumpang pulang dengan seorang teman. Mengapa waktunya kurang tepat, karena pada saat itu dia rupanya sudah punya rencana mau singgah di suatu tempat. Hanya mungkin karena tidak enak menolak, dia terpaksa membawa saya.

Belum sampai ke tempat tujuan, motor dia belokan. Rupanya dia sedang kebelet pengen buang hormon di Lokalisasi. Setelah mutar-mutar dari satu rumah cinta ke rumah cinta yang lain, akhirnya dia menghentikan motornya di sebuah rumah yang ada warung di depannya. Di sana ada beberapa wanita berpenampilan menggoda. Pesan kopi, dan mulailah teman saya memasang mata elangnya. Ketika mantap dengan salah satu wanita, dia menariknya ke dekat kami. Negosiasi pun dimulai.

Karena saya merasa tidak berkepentingan dengan urusan itu, salah memilih aktivitas lain; menghitung waktu. Dari waktu singgah, pesan kopi, negosiasi, hingga lamanya durasi dia kencan di kamar. Dengan satu kesimpulan, mereka hanya ML selama tiga menit, namun sama-sama puas. Buktinya ketika keluar kamar, sang wanita masih bergelayut manja di lengan teman saya, dan wajah teman saya pun cerah.

Mungkin karena lega hajatnya tertuntaskan dan si wanita, wanita dengan pakaian serba kekurangan itu, saya yakin juga puas karena dagangannya laku hari itu. Walaupun saya tidak begitu yakin dia puas secara biologis. Itulah mungkin yang membuat para pria memilih membuang kelebihan energinya di tempat begituan, karena rata-rata wanita disana sangat lihai membuat pria percaya diri. Selemah, seloyo, seletoi apapun dia. Setidaknya begitu alasan teman saya yang sudah beristri namun masih suka jajan. Walau tidak sepenuhnya benar seperti itu, sebab ada saja pria-pria hidung berwarna yang malah sangat tertantang memuaskan pasangan sesaatnya. Mereka sampai rela menenggak darah ular, mengonsumsi obat stamina, meminum jamu sehat lelaki untuk meningkatkan vitalitas. Termasuk mendatangi tabib dan dukun untuk menjalani terapi khusus, mempermak alat vital mereka, hanya untuk tampil “jagoan” di depan istri bayaran.

Seorang kawan lainnya begitu semangat menceritakan kesuksesannya menaklukkan seorang wanita malam hanya dengan selembar tissue ajaib yang dipesannya secara online. Kata dia, ini cara paling aman yang sama sekali tidak memiliki resiko kesehatan maupun serangan jantung yang kerap terjadi pada mereka yang meminum obat vitalitas. “Cukup diusapkan di bagian ‘itu’ sebelum main,” katanya. “Efeknya hanya sedikit panas dan agak kebas, selama sekitar 6 jam. Kalau mau terbebas dari efek tissue itu, cukup dicuci dengan sabun.”

Kalau hanya untuk memuaskan lawan main, sementara kita tidak merasakan apa-apa, buat apa. Bukankah kita datang, menghabiskan uang di tempat yang begituan untuk memuaskan diri, menuntaskan hasrat. Saya sungguh tak habis pikir. Masa hanya untuk berbuat dosa saja sampai harus menanggung kerugian sedemikian banyak. Rugi lahir dan di dalam bathin. Uang habis untuk bayar jasa seks dan peranti penguat vitalitas, sedangkan kepuasan sama sekali tidak di dapatkan.

Ada lagi trik lain yang digunakan seorang kawan untuk menaklukkan para penjaja kepuasan. Cara ini memang lebih murah, lebih aman, dan rendah resiko. Yaitu dengan melakukan onani sebelum ngamar. “Kita bisa lebih mudah mengendalikan diri dan mengendalikan tempo permainan,” ujarnya.

Mengapa harus main lama-lamaan di atas ranjang. Mereka punya banyak alasan. Pertama ingin menunjukkan kalau mereka jantan. Kedua dendam. Untuk alasan kedua ini, mungkin si pria ini pernah mengalami nasib dihina saat keluar lebih cepat, oleh pasangan resmi maupun rentalannya. Alasan ketiga, ada beberapa Lokalisasi yang menerapkan aturan beli, bukan dengan jam-jaman, seperti sekian jam bayar sekian. Tapi seberapa kuat tamu bisa bertahan. Umpama dia mampu bertahan seharian penuh, maka seharian itu pula dia bisa menikmati kebersamaan.

Alasan lainnya, kejiwaan. Ada pria yang merasa senang ketika melihat lawan terkapar tak berdaya, terengah-engah mengimbangi permainannya, bahkan kalau bisa sampai harus gigit kain segala. Pokoknya, jangan sampai keok kurang dari satu ronde pertandingan tinju alias harus mengaku kalah dalam tiga menit. Bahkan kalau bisa nih ya, dia bisa membawa perempuannya bertandingan berkali-kali, beronde-ronde tanpa harus “keluar” duluan.

Namun tiga menit bagi orang bijak tentu sangat jauh berbeda. Tiga menit dapat menjadi waktu yang sangat menentukan, apakah dia memilih kalah dan memperturutkan nafsu sesaat dan berujung kerugian di kemudian hari. Tiga menit yang membuat hancur keluarga, atau menderita penyakit tertentu dan menularkannya kepada istri yang tidak berdosa di rumah. Tiga menit yang membuat dia akan menerima nasib yang lebih mengenaskan di akhirat nanti, karena harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di hadapan Tuhan.

Tiga menit juga akan menjadi waktu yang sangat krusial bagi nasib suatu bangsa di bilik suara. Salah sedikit saja dalam menentukan pilihan, seorang warga negara yang baik, yang sedang menentukan hak pilihnya, dapat saja turut berdosa dan menyesal di kemudian hari karena telah salah memilih pemimpinnya. Karena itu, gunakan sebaik-baiknya waktu, karena waktu tak dapat diputar ulang, walau hanya tiga menit. ()

Wednesday, 30 September 2015

Antara Cok Simbara, Abidinsyah, dan Pilkada Banjar

TERUS terang, secara pribadi, saya tak mengenal pria ini. Saya pun tidak terlalu peduli dengan baliho yang memampang fotonya. Mengenakan kemeja biru, rapi dan berpeci. Reklame berukuran besar ini muncul di momen tertentu. Biasanya di hari besar keagamaan, HUT kemerdekaan, hari jadi daerah, dan momen peringatan lainnya. Bersamanya ada ucapan-ucapan selamat dan kata bijak yang terkait dengan momen yang menjadi alasan iklan itu di pasang.

Lokasi pemasangannya selalu sama, di dekat jembatan Sungai Pering, pojok terminal Pasar Belauran Martapura, Bundaran Km 17, dan beberapa spot strategis lainnya. Namun yang pasti, baliho bergambar pria berwajah ganteng itu – setidaknya demikianlah menurut penilaian istri saya – tidak pernah melampaui atau berada di luar wilayah Kabupaten Banjar.

Oh iya, mengenai wajah ganteng itu, menurut istri saya, sangat mirip dengan artis terkenal tahun 90-an, Cok Simbara. Cok Simbara? Siapa pula orang itu. Saya akui, saya memang sedikit kuper. Suka menyendiri dan lebih asyik dengan diri sendiri. Maka, sepanjang perjalanan dari Martapura-Banjarmasin pulang pergi, saya masih belum bisa membayangkan seperti apa sosoknya. Beda kalau yang disebut itu semacam anggota Warkop DKI (Dono Kasino Indro), atau Kadir-Doyok, Grup Bagito (Miing, Didin, dan Unang), dan sederet aktor yang selalu bermain film bergenre komedi, saya pasti kenal. Saya memang tidak terlalu suka dengan film roman-romanan, berair mata, yang banyak mengekapose intrik percintaan, dan cengeng. Mungkin ini hanya karena beda selera saja.

Sampai di sini, saya masih cuek. Saya tidak terlalu peduli dengan siapapun yang memampangkan diri di baliho-baliho berukuran besar. Termasuk ucapan dan kata-kata bijak yang termuat bersamanya. Bukan karena saya anti politik dan memusuhi para politisi, bukan. Saya cuma tidak ingin mumet. Saya hanya ingin yang ringan-ringan saja. Santai dan selalu berusaha mencari sisi lucu dari semua peristiwa.

Kata orang saya ini apatis, tapi tidak juga. Malah justru melankolis dan sangat mudah terharu sampai menitikkan air mata kalau menyaksikan kisah-kisah mengharukan. Makanya saya tidak mau nonton film yang ada adegan tangis-tangisannya. Saya bisa nangis melebihi wanita. Sebagai pria, ini memang sisi pribadi yang amat memalukan. Bisa ngakak istri saya kalau dia tahu.

Saya pun kadang suka terharu bila membaca kata-kata bijak yang dapat membangkitkan semangat. Karena alasan itu pula saya sangat tidak ingin, bahkan sering membuang muka ketika melihat baliho besar di pinggir jalan. Takut mata ini sembab. Apa kata orang nantinya melihat saya tiba-tiba bersimbah air mata saat naik motor karena terharu membaca isi reklame. Pria apaan, lebay! Semoga istri saya tidak baca tulisan ini, karena sungguh, ini rahasia terbesar saya.

Siapa pria di baliho itu, siapa Cok Simbara, saya tidak peduli. Namun sikap keras kepala ini tidak bertahan lama. Sekitar dua tahunan, tepatnya hingga Ramadan baru tadi. Tanpa sengaja membaca sebuah artikel kesehatan di internet, yang menuliskan bahaya tidur setelah makan sahur. Saya manut berjaga sampai agak siangan. Untuk mengusir rasa kantuk setelah salat subuh, saya sibukkan diri dengan menonton TV. Tentunya acara yang ada humor-humornya.

Pilihan saya sebuah sinetron Ramadan yang menceritakan tiga pria konyol, yang sangat bermasalah dengan cinta, pekerjaan, dan nasib baik. Sepertinya, tiga orang ini tak pernah bernasib mujur. Selalu sial. Kerap terlibat konflik, kalau tidak rebutan cinta dan persaingan dengan pria-pria lain yang lebih tajir, pastilah konflik itu terkait masalah pekerjaan. Mereka bertiga juga kadang bermasalah dengan penghuni rusun lainnya, termasuk dengan orang tuanya yang mulai gerah dengan kesialan yang ditimbulkan mereka. Hanya satu orang yang selalu sabar dan sering menolong tiga semprul ini sekaligus menjadi tempat curhat dan meminta nasihat. Dia adalah Ustaz Kosim. Sosok ustaz sederhana, bijak, dan penuh keikhlasan. Dia juga sangat disegani oleh seisi rusun. Belakangan saya tahu, aktor yang memerankan Ustaz Kosim tak lain adalah Cok Simbara. Itupun setelah diberitahu istri saya. Rupanya ini orangnya.

Sampai di sini, saya belum juga sempat terpikir untuk menghubungkan kemiripan tokoh berpeci, berkemeja biru rapi di baliho itu. Saya masih begitu larut dengan cerita komedi yang menurut saya lucu, segar dan menarik. Ini pasti karena sutradara dan penulis naskahnya yang hebat. Mampu menyulap artis-artis yang sebenarnya bukan pelawak seperti Gading Marten dan Andika Pratama menjadi seorang yang sangat konyol dalam serial yang hanya tayang di pagi bulan puasa itu; Tiga Semprul Mengejar Surga. Begitu judulnya seingat saya.

Skip, skip, skip...Beberapa minggu berlalu usai lebaran. Saya belum juga tertarik mencari tahu, siapa pria berkemeja rapi, berpeci di baliho itu. Oh iya, di beberapa kesempatan, pria yang kata istri saya mirip Ustaz Kosim (Cok Simbara) itu, ternyata tidak selalu mengenakan kemeja biru dalam balihonya, pernah juga berpakaian baju koko warna putih dan sederhana. Bila sudah begini, betul-betul sangat mirip dengan sang ustaz. Hingga akhirnya di suatu siang, saya memiliki keperluan ke Banjarmasin. Melewati bundaran Km 17, mata saya tertumbuk pada baliho bergambar pria ini. Dia bersama istrinya. Terlihat cantik. Saya pikir, mereka berdua memang pasangan serasi. Apakah Cok Simbara juga memiliki istri yang berparas serupa dengan istri orang ini? Jangan-jangan memang demikianlah adanya.

Tumben dan seakan ada yang memerintahkan, saya menyempatkan berhenti, dan membaca tulisan-tulisan di dalamnya. Ucapan lebaran yang belum juga dilepas dari papan berukuran besar ini. Kalimatnya standar, “Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Bathin, bla…bla…bla…”. Di bagian bawah tertulis dengan huruf kapital: KELUARGA BESAR PANGERAN ABIDINSYAH. Ow oo, rupanya Abidin nama pria ini. Sampai di sini saya baru tahu namanya. Siapa dia dan apa latar belakangnya, belum. Mungkin dia tokoh penting di daerah ini, mungkin pula dia pejabat. Saya tak ambil pusing dan memilih melanjutkan perjalanan.

Tak terasa Idul Adha tiba. Karena terjadi perbedaan antara penganut Muhammadiyah dengan pemerintah dalam merayakan lebaran, kami ketiban berkah, mendapat libur kerja dua hari. Lumayan. Waktu itu saya gunakan untuk nonton televisi berbayar di rumah. Channelnya memutar film-film lawas. Dan sangat kebetulan, lagi-lagi diperankan oleh Cok Simbara. Judulnya: Kentut.

Diceritakan dalam film tersebut, seorang dokter yang bertugas di sebuah rumah sakit di Kabupaten Kuncup Mekar dan menjabat sebagai kepala rumah sakit. Namanya dr Fery. Tokoh ini diperankan Cok Simbara. Suatu hari dr Fery mendapat pasien yang merupakan orang penting. Pasien tersebut adalah Ibu Patiwa, salah satu calon bupati yang maju di pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Kuncup Mekar. Karena pasiennya adalah orang penting, Fery mendapat tekanan yang berbeda dibanding menangani pasien biasa.

Tim sukses dari calon bupati tersebut terus menerus mendesak agar memberikan perawatan terbaik. Fery menjawab dengan bijak, bahwa pihak rumah sakit akan berusaha memberikan yang terbaik. Namun dia mengingatkan, tim dokter hanya berusaha, tetapi yang menentukan kesembuhan adalah Yang Maha Kuasa.

Keadaan menjadi semakin rumit karena banyak wartawan yang datang ke rumah sakit untuk meliput perkembangan kesehatan sang calon bupati. Nama baik dan kredibilitas rumah sakit menjadi sorotan publik. Sang dokter berada dalam situasi yang sangat membingungkan. Tim sukses yang tidak sabaran, para wartawan yang terus menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan sungguh membuatnya stress berat. Namun Cok Simbara, eh dr Fery  tetap berusaha tenang dan sabar. Hingga akhirnya Fery mendapat suatu titik terang. Menemukan alternatif cara agar sang pasien bisa segera kentut. Dan ternyata benar, sang pasien benar-benar bisa kentut.

Sebuah cerita yang menurut saya sangat menghibur karena mengandung unsur komedi, kesukaan saya. Juga terdapat pelajaran berharga berupa ketenangan dan keyakinan yang ditunjukkan dr Fery. Film berakhir, digantikan tayangan iklan bermenit-menit.

Untuk membunuh kebosanan, menunggu film selanjutnya, saya memilih menyalakan internet. Tiba-tiba saya teringat tentang kembaran Cok Simbara di baliho ketika itu. Apa kabar dia ya? Saya pun mencarinya di mesin pencarian andalan. Apalagi kalau bukan google. Saya ketik kata kunci: Pangeran Abidinsyah. Informasi pun keluar susul menyusul. Dan ternyata sangat banyak. Rupanya dia memang tokoh yang banyak ditulis media.

Benar dugaan saya, saat pertama kali meneliti baliho di Km 17 dalam perjalanan ke Banjarmasin beberapa waktu lalu. Ternyata dia memang seorang pejabat, eselon dua. Pernah menduduki beberapa jabatan penting di Pemkab Banjar. Karirnya tergolong moncer. Pernah pula karena prestasi nasional yang dicapainya, Abidin sampai mendapat anugerah lompat naik pangkat sampai dua kali. Sesuatu yang sangat jarang diraih seorang pegawai negeri.

Laman demi laman situs berita saya baca untuk menuntaskan rasa penasaran pada pria berdarah bangsawan Banjar ini. Abidin ternyata seorang yang memiliki jiwa sosial yang terpuji. Terceritakan kalau dia bukan sosok peragu. Terlebih ketika harus menolong orang yang sedang dalam kesusahan. Dia mengunjungi dan membantu keluarga tidak mampu yang kebetulan membutuhkan biaya pengobatan karena menderita penyakit berat dan terhimpit ekonomi. Dia memang tidak selalu mampu membiayai pengobatan orang yang ditolongnya seorang diri, apalagi dari kantong seorang pegawai negeri, walau Abidin memiliki jabatan yang tidaklah rendah.

Kalau sudah mentok, Abidin biasanya akan mengajak rekan-rekan sejawatnya untuk membantu. Dengan membuka dompet peduli untuk disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. Di sinilah mungkin salah satu bukti kecerdasan dan talenta kepemimpinan yang dimilikinya. Tak salah jika salah satu parpol besar kemudian mau mengusungnya menjadi calon kepala daerah. Walaupun, saya sempat baca juga, proses pendaftarannya menjadi bakal calon kepala daerah harus melalui jalan berliku dan nyaris gagal akibat ditolak KPU setempat.

Ramai juga diberitakan, bagaimana perjuangan Pasangan Calon Abidinsyah-Mawardi untuk bisa mendaftarkan diri sebagai calon yang diusung oleh satu partai yang mengalami dualisme kepengurusan di tingkat pusat, harus mengikuti sidang-sidang melelahkan yang diselenggarakan Panwaslu untuk menyelesaikan perkara yang melibatkan dirinya dengan KPUD.

Dan Uniknya, di tengah perjuangan hidup mati untuk mendapatkan pengesahan sebagai calon kepala daerah saja, pasangan yang kemudian mengusung jargon Abdi ini harus pula menghadapi upaya calon lawan politik, tiga pasangan calon kepala daerah lain yang lebih dulu disahkan KPUD, berusaha mengadang langkah Abidin memasuki gelanggang pertarungan. Sampai-sampai mereka bertiga yang harusnya saling bersaing, malah memilih bersatu dan membentuk semacam forum komunikasi untuk menyingkirkan pasangan ini. Begitulah politik. Kadang kejam. Benarlah sebuah ungkapan, tak ada teman sejati dan tak musuh abadi dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan. Karena itu pula, saya cenderung memilih kata tidak untuk politik.

Semakin jauh laman yang terbaca, semakin banyak informasi tentang Abidin yang terbuka. Si “Cok Simbara” ini ternyata juga sangat peduli dengan aktivitas dan pembinaan keagamaan. Mungkin karena dia Ketua ICMI. Tapi yang jelas dia terlihat begitu aktif memerangi buta aksara hijaiyah, dengan membuka sebanyak-banyaknya lembaga baca tulis Alquran. Kalau Soeharto disebut Bapak Pembangunan, Gusdur Bapak Fluralisme, untuk skop yang lebih kecil di daerah, Abidin layak disandangkan dengan sebutan Bapak Iqra Kabupaten Banjar. Setidaknya demikian pendapat saya. Sampai di sini saya mulai terharu dan menitikkan air mata. Walau secara pribadi, saya tidak mengenalnya, begitupun dia.

Begitulah. Seandainya kelak, dari hasil pemilihan yang jujur dan adil, si Cok Simbara kawe satu ini terpilih memimpin kabupaten yang berjuluk Serambi Mekkah, menjadi bupati di bumi yang banyak mencetak para santri di nusantara, dan mengabdi total pada masyarakatnya yang sangat agamis, saya rasa warga tidaklah akan terbebani rasa berdosa karena memilih dia, sebab pilihan mereka sudah tepat. Setidaknya begitu menurut saya. ()

Sunday, 27 September 2015

Biarkan Selfie Narsis Bicara

DALAM sebuah kelas coaching clinic yang digelar di kantor saya, ada materi tentang fotografi. Pembicaranya seorang fotografer kawakan dari kantor pusat. Menurut teori, kata dia, sebuah karya foto adalah sarana untuk menyampaikan pesan-pesan yang diinginkannya.

Seorang fotografer yang memiliki kepekaan dalam melihat obyek di sekitarnya, hasil fotonya bisa menyampaikan pesan lebih, bahkan bisa muncul suasana lain di dalamnya yang mungkin orang kebanyakan tidak merasakannya. Karenanya, bagi seorang fotografer yang penting adalah foto yang dihasilkan bisa bicara dan menginspirasi. Itu teori yang dikatakannya.

Tapi saya punya teori juga yang didapat dari ilham. Mungkin dari mimpi atau pernah baca dari buku atau sumber lain, namun sudah terselip dan terpendam sekian dalam di alam bawah sadar. Sehingga ketika mendengar teori tentang foto berbicara dan menginspirasi, pikiran saya mendadak memunculkan hal serupa, namun bertolak belakang.

Menurut teori saya, untuk sementara saya sebut begitu dulu karena hingga saat ini saya masih belum mampu mengingat sumbernya, atau jangan-jangan memang belum ada seorangpun yang mengemukakann teori ini; foto yang mampu berbicara itu belumlah segalanya. Belum mampu melampaui sebuah foto yang dibicarakan, foto yang menjadi buah bibir. Berbicara dan dibicarakan itu memiliki makna yang berbeda. Maqom-nya pun sangat jauh.

Foto yang berbicara itu adalah foto yang sangat ingin dibicarakan. Perkara apakah nantinya harapannya akan terwujud, tergantung penerimaan dari orang yang menilainya. Tentu saja ini sangat berbeda dengan sebuah foto yang telah berada di level foto dibicarakan. Foto yang dibicarakan itu sudah pasti adalah foto yang berbicara, yang kemudian berevolusi menjadi foto yang dibicarakan banyak orang.

Foto yang dibicarakan itu sudah pasti akan menjadi berita. Dia adalah sumber berita itu sendiri, dia menjadi buah bibir, viral dunia maya, dan dibicarakan di mana-mana. Sehingga wartawan menjadi sangat berkepentingan dengan foto itu untuk disiarkan. Entah itu dengan cara difoto lagi (direpro) atau dituliskan menjadi sebuah berita yang bernilai.

Sedangkan foto yang berbicara, hanyalah foto yang sedang berjuang meminta perhatian. Dengan harapan dia nantinya menjadi foto yang dibicarakan, dipuji, disanjung, dinobatkan menjadi ini-itu, dielu-elukan. Tapi apakah lantas terwujud. Tergantung. Nasib baik yang menentukan kemudian.

Makanya, jangan bangga dulu karena mampu membuat foto berbicara. Sebab, foto yang berbicara itu belum tentu menjadi foto yang dibicarakan. Foto berbicara itu hanya sebatas sebuah potret yang terkungkung oleh kebanggaan pribadi seorang fotografer, yang belum tentu diterima dan dibicarakan orang lain.

Saya punya seorang kawan yang hobi berpose dengan para pesohor. Bahkan hobinya ini sudah mencapai taraf mengkhawatirkan. Ketika melihat seorang pesohor, dia mendadak seperti kehilangan akal sehatnya dan instingnya sebagai wartawan. Dia mendadak blank. Satu-satunya yang mampu diingat hanyalah, dia harus berfoto dengan pesohor yang ditemuinya. Bagaimanapun caranya.

Dia akan linglung dan kehilangan gairah, hanya gara-gara gagal berfoto dengan seorang artis dangdut pendatang baru yang belum terlalu terkenal. Prinsifnya, dia harus berfoto dengan siapapun yang terkenal. Walau itu artis tingkat kampung. Karena konsep terkenal menurut keyakinannya adalah dikenal lebih dari 10 orang. Entah, dari mana konsep itu dipungutnya.

Dan saya sempat mengira, jalan satu-satunya untuk menjaga kewarasannya hanyalah dengan berfoto itu. Ternyata saya salah. Dia justru lebih parah kala berhasil. Saat sukses menjepret dirinya dengan seorang pesohor, kebetulan tokoh salah satu parpol tingkat nasional, dia malah mengalami semacam euforia berlebih. Terserang amnesia. Lalu akhirnya lupa harus menulis berita apa, gara-gara terlalu gembira. Ketika redaktur menanyakan beritanya, dia malah cengengesan sambil menyerahkan foto dirinya dengan sang tokoh. Mungkin dia berharap, fotonya itu bisa masuk koran dan ikutan terkenal.

Saat resign dari kantor kami dan membuka usaha wiraswasta, kegemarannya berfoto dengan pesohor tidak lantas berhenti. Hanya saja sedikit berkurang karena mungkin agak sulit, sebab aksesnya mendekati para pesohor sekarang menjadi tidak mudah. Tahu sendirilah, wartawan kan mudah menyusup kemana saja. Cukup berbekal ID Card, dia bisa menerobos, bahkan sampai ke kamar ganti artis.

Tidak lebih dari setahun berwiraswasta, dia mulai frustasi dan memilih kembali berkarir di media, meski harus pindah ke media massa yang lebih kecil. Mungkin karena dia sudah tidak bisa lagi berselfie ria dengan artis, tokoh parpol, kepala daerah, dan para peshor lainnya.

Tahukah Anda, setiap dia berhasil berfoto dengan artis, dia berusaha keras menerbitkannya di media massa. Kalau ternyata gagal, dia tak habis pikir. Apalagi zaman medsos seperti sekarang. Dia akan memamerkannya di facebook, twitter, instagram, dan lainnya. Kegilaan yang sulit untuk disembuhkan.

Itu tadi cerita tentang seorang kawan. Saya punya seorang kawan lagi yang juga memiliki kegilaan serupa. Dia juga senang memoto dirinya, dan memostingnya ke media sosial. Hanya saja, yang jadi objek targetnya bukanlah orang terkenal. Melainkan benda-benda unik, ganjil, maupun suasana yang berbeda dari kelaziman, dan agak norak.

Pernah dia berfoto di sebuah objek wisata. Saya menduga, dia berfoto di lokasi candi borobudur. Walapun saya tidak terlalu yakin dengan dugaan saya. Kawan saya itu berfoto di dekat tulisan: “No Smoking” yang terpasang di lokasi candi, sambil menyalakan sebatang rokok. Begitu bangganya dia saat memasang foto itu di facebook miliknya, sambil berkoar, merokok adalah hak asasi manusia. Melarangnya berarti telah melanggar HAM. Sinting!

Dia juga pernah berpose di dekat sebuah patung kakek mengenakan blangkon. Saya pernah melihat patung itu. Menilik suasana sekitarnya dan kesibukan orang berbelanja, sepertinya itu di salah satu toko yang menjual souvenir di bilangan Jl Molioboro Jogja. Saya sempat berdebat dengan beberapa pengunjung facebooknya yang mengatakan kalau lokasi patung itu berada di lingkungan keraton. Si pemilik foto, kawan saya itu, begitu menikmati perdebatan di dunia maya itu dengan tanpa memberi komentar apapun.

Dari dua kawan yang memiliki kegilaan serupa ini, saya menyimpulkan, foto mereka berdua dapat digolongkan ke dalam dua mazhab berbeda; mazhab foto berbicara; dan foto dibicarakan. Untuk contoh pertama, memang foto bicara. Menunjukkan kalau dia sedang berfoto dengan artis A, tokoh B, selebriti C, dan lain-lain. Namun tak satupun orang yang mau membicarakannya. Yang ada malah nyinyir. Menatap sebentar, setelah itu beralih.

Berbeda dengan kawan yang kedua, foto yang dihasilkannya sukses menjadi foto yang dibicarakan. Memancing orang untuk menduga-duga. Sekurang-kurangnya akan tertawa. Memang agak menghibur, sampai ada yang mengatakan, fotonya cukup gila dan orangnya pasti sinting.

Terinspirasi dari kegilaan mereka, saya mencoba membangun mazhab baru dalam berpose; yaitu berpose dengan orang gila, berselfie di tempat pembuangan sampah penuh lalat, berpose dengan mayat, pembunuh berantai, pemerkosa janda, pencuri yang habis digebuki massa, berfoto di dalam gelap, dan lainnya. Dan prestasi terbesar saya dalam berpose narsis adalah, berfoto dengan pejabat, artis, selebrita, dengan wajah saya yang sengaja saya tutup dengan masker. ()

Friday, 25 September 2015

Selamat Datang di WC Pria


NAMANYA saja WC Pria, tentu saja untuk pria. Kalau di tempat-tempat umum yang biasa menyediakan WC, biasanya ditandai dengan lambang manusia yang tidak pakai rok. Di bawahnya bertulisan “Man”. Entah mengapa tidak ada yang bertulisan “Pria”. Mungkin yang bikin bukan orang kita. Ah, Indonesia bikin benda seperti ini saja tidak bisa.

Beberapa masa kemudian, seorang teman menunjukkan gambar yang diperolehnya dari internet, ada logo WC yang bertulis pria. Saya langsung berbinar. Penemuan berharga itu langsung mengubah persepsi saya, dan saya kembali mencintai Indonesia. Walau hingga saat ini saya belum sekalipun menemukan yang demikian di alam nyata.

Tapi sudahlah, apalah arti sebuah simbol, yang penting kalian bisa mengenali dan tidak salah masuk. Sebab kalau keliru, bisa gawat, boy. Alarm alami yang dipunyai wanita otomatia bunyi. Diteriaki Bung! Atau ya minimal Anda dipelototi sambil ditegur begini: Maaf (eh, kadang juga gak pakai maaf), apa Anda tidak bisa baca! Anda buta?

Memang egois, tapi ya begitulah wanita. Reaktif, pemarah, tak mau disepelekan, dilecehkan, suka nangis, suka mendiamkan prianya hingga berhari-hari, ingin selalu dinomorsatukan, anti dipoligami dan banyak lagi. Ironisnya, mereka tetaplah menjadi makhluk yang menyenangkan bagi kita, bagi pria.

Bagaimana dengan wanita sendiri? Inilah bedanya dengan pria. Wanita boleh ngintip, terang-terangan juga boleh. Apa pria marah? Tak sanggup rasanya hati ini marah. Malah ada yang senang. Bangga diintip wanita. Pria memang beda.

Pria-pria memang biasa terbuka dengan siapa saja. Dengan makhluk cantik bernama wanita, apalagi. Tak ada pria yang marah kalau wanita salah masuk WC. Padahal belum tentu wanita akan selalu aman buat mereka. Siapa yang bisa jamin kalau wanita tidak bakal melirik ke arah bagian-bagian tertentu yang mereka sukai dari tubuh lelaki. Atau berbuat sadis. Banyak di koran dan televisi yang memberitakan ada wanita yang membunuh suaminya atau yang mendalangi pembunuhan. Pemerkosaan dan lainnya. 

Begitupun dengan blog ini. Silakan para wanita masuk blog WC Pria. Mau sekadar mengintip ataupun mau numpang “pipis” (berkomentar dan segala macamnya) juga monggo. Sekali lagi, karena pria lebih terbuka, sedangkan wanita selalu ingin dimengerti. Itu saja.

Mengapa harus WC Pria, karena WC bagi pria (mungkin wanita juga) bukan sekadar tempat buang hajat. Pipis beol setelah itu sudah. WC telah menjadi tempat segalanya. Tempat merenung, tempat merokok, kadang memang klop juga sih merenung sambil merokok. 

Kalau pas kebetulan mulas, sembari menuntaskan sesuatu yang memang saatnya untuk dikeluarkan, merokok sambil jongkok dan merenung di WC itu rasanya nikmat banget. Tidak perlu kita harus repot bersopan-santun dan sok menjaga kesehatan orang yang tidak merokok di sekitar kita. 

Tidak perlu takut ditegur, karena setahu saya belum ada satupun WC di daratan ini yang ditempeli stiker peringatan bergambar rokok disilang merah. Jadi selama tidak ada itu, WC masih menjadi zona aman untuk merokok.

Dulu ada kawan yang mengeluh mulas dan minta izin mau ke belakang, tapi malah lari ke depan. Mau ke warung dulu katanya. Beli rokok. Dia mengaku tak pernah merasa puas kalau beol tanpa rokok. Seperti sayur tanpa garam, seperti langit tanpa bintang, seperti lelaki jomblo tanpa sabun. Entah metabolisme tubuh macam apa yang dipunyainya sampai-sampai tak bisa beol tanpa rokok. Saya pernah coba, ternyata nikmat juga.

WC bagi pria juga semacam tempat privasi, tempat yang cukup pribadi. Walaupun banyak juga pria yang buang hajat sembarangan. Di bawah pohon, tiang listrik, rerimbunan semak, ATM, telepon umum, sudut toko, sambil komat-kamit minta izin; “Mbah…cucu numpang pipis…”

Bahkan ada yang kebelet saat nyetir. Dengan cukup meminggirkan mobilnya, membuka pintu dan menjadikannya semacam pembatas dengan alam terbuka, lalu cuuurrr…nyucinya pakai air mineral kemasan, sisa airnya dia pakai lagi buat minum. Atau pakai daun. Biasanya ini buat yang tidak nemu air dan kebetulan melakukan ritual tersebut di dekat pohon. Kalau tidak punya daun dan air, kadang juga cukup dijentik, tik, tik, tik. Sudah.

WC kadang juga menjadi tempat memuaskan nafsu (jangan ngeres dulu), amarah, menangis. Kalau menangis biasanya pria paling anti ketahuan orang, apalagi ketahuan wanita. Kalau ketemu WC, tinggal kunci pintu, nyalakan kran, sudah deh mewek. Menangislah sang pria sejadi-jadinya. Lebay!

Dan Entahlah, sudah sejak kapan WC menjadi tempat untuk menggali ide cemerlang. Dalam sebuah wawancara di televisi, salah satu artis, penulis, sekaligus pencipta lagu terkenal di zamannya Dik Doang mengaku hanya bisa berpikir cemerlang, memproduksi semua ide-idenya saat duduk di kloset. 

Sampai-sampai hanya untuk keperluan memunculkan kesan sedang berada di dalam WC, dia sampai menaruh kloset di ruang kerjanya. Sehingga ketika dia kehabisan ide saat menulis atau menciptakan lagu, maka dia berpindah dari kursi kerjanya dan duduk di kloset. Dan secara ajaib, ide itu berhamburan keluar dari benaknya seperti hujan deras yang turun dari langit. Wow!

Kadang, ketika si pria-pria kesepian tak punya kawan curhat, dia masuk WC. Bicara sendiri. Ruang WC yang sempit dan tertutup rapat biasanya akan menciptakan pantulan-pantulan suara yang sedikit berbeda dari aslinya. Maka jadilah dia sebagai lawan bicara yang mengasyikkan, tidak “ember”, rahasia terjamin, tidak pernah nyolot atau malah balik menyalahkan kita, tak pernah mendebat. Pokoknya paling memahami kita deh. Gila!

Seorang orator pemula, kadang tak cukup hanya cermin yang dia jadikan media berlatih. Tahukah Anda, sebelum sampai cermin dia akan berlatih pidato sejadi-jadinya di dalam WC. Membayangkan sedang berbicara di depan kerumunan massa, berdiri di atas podium agung. Dengan gagah memegang gayung yang didekatkan ke mulut, dan mulailah berorasi dengan kalimat standar; saudara, saudara!

WC juga kadang bisa menjadi tempat meludah, membuang puntung rokok, menjadi semacam asbak. Memang kesannya jorok, tapi ini masih lebih sopan ketimbang membuang pembalut, tissue bekas ngelap kosmetik dan sejenisnya. Kalau sudah pembalut yang dibuang, alamat mampet. Ujung-ujung keluar duit buat manggil tukang sedot WC. 

Makanya, di kebanyakan WC umum sering dipasang peringatan agar tidak membuang pembalut, tissue dan puntung rokok ke dalam lubang kloset. Maknanya apa? Karena lubang WC biasanya jadi tempat pembuangan barang begituan. Tapi yang jelas tidak ditempeli larangan merokok. Hanya saja kalau membuang puntung jangan ke dalam lubang.

WC seakan sudah menjadi teman paling setia bagi kita. Tak pernah terbatuk-batuk mendengar suara pals kita bernyanyi, tak pernah mengumpat saat kita meludahi, tak pernah menjadi paparazzi dan menyebarkan foto wajah kita yang bersemu merah, bergetar hebat saat berjuang melepaskan sisa makanan dari dua lubang saluran pembuangan di tubuh kita. Atau mempublishnya lewat Instagram dan youtube ke dunia maya ketika menyaksikan kita melakukan sesuatu yang bersifat sangat pribadi. 

Kalaupun pernah terjadi, ada video yang disebar di internet, pelakunya jelas bukan dia. WC tak pernah menusuk dari belakang. Tak pernah juga merasa cemburu ketika kita ketahuan pipis dan beol di WC lain.

WC juga tak pernah menuntut kita membersihkannya setiap saat. Kadang saat kita malas, menyiram sisa kotoran saja kita sering lupa. Tak pernah juga dia merengek-rengek minta dibelikan kamper wangi, pengharum ruangan ber-timer, atau menaruh lukisan bunga untuk mempercantik penampilan. 

Semua terserah kita. Sepanjang kita betah dengan dia, sebau, seburuk apapun penampilannya, WC tetap setia melayani tuannya. Kadang juga bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan uang. Walau hanya recehan, tapi lumayan.

Bagi para jomblower tulen, WC kadang bisa lebih indah dari kesakralan sebuah kamar pengantin, lebih mewah dari sebuah kamar hotel kelas melati, lebih setia dari mantan yang berpaling ke lelaki lain, atau istri bohai yang juga bisa berselingkuh di belakang kita. 

Kalaupun sesekali WC menerima pengguna lain, pastilah itu atas seizin pemiliknya. Sejorok apapun prilakumu, WC tetap menerimamu apa adanya.
Curhatlah di sini, menangislah di sini, marahlah di sini, berteriaklah di sini (tapi jangan kencang-kencang, malu kedengaran orang), meludahlah di sini, berbagilah di sini, berlatihlah di sini, berapa-apapunlah di sini. Di sini aman. 

Tapi maaf kawan, saya sedikit keliru soal logo WC Pria yang tidak pernah menyantumkan kata "Pria". Beberapa bulan setelah menghantarkan tulisan ini di blog saya, saya pulang bepergian menggunakan pesawat. Setiba di Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru, saya kebelet pipis. Singgahlah saya di WC di sebelah pintu keluar kedatangan. Di situ saya melihat logo gambar orang tanpa rok dan bertulisan " Pria". Saya surprise sekaligus tepekur. Oh Tuhan, ternyata saya terlalu asosial. ()