DALAM sebuah kelas coaching clinic yang digelar di kantor saya, ada materi tentang fotografi. Pembicaranya seorang fotografer kawakan dari kantor pusat. Menurut teori, kata dia, sebuah karya foto adalah sarana untuk menyampaikan pesan-pesan yang diinginkannya.
Seorang fotografer yang memiliki kepekaan dalam melihat obyek di sekitarnya, hasil fotonya bisa menyampaikan pesan lebih, bahkan bisa muncul suasana lain di dalamnya yang mungkin orang kebanyakan tidak merasakannya. Karenanya, bagi seorang fotografer yang penting adalah foto yang dihasilkan bisa bicara dan menginspirasi. Itu teori yang dikatakannya.
Tapi saya punya teori juga yang didapat dari ilham. Mungkin dari mimpi atau pernah baca dari buku atau sumber lain, namun sudah terselip dan terpendam sekian dalam di alam bawah sadar. Sehingga ketika mendengar teori tentang foto berbicara dan menginspirasi, pikiran saya mendadak memunculkan hal serupa, namun bertolak belakang.
Menurut teori saya, untuk sementara saya sebut begitu dulu karena hingga saat ini saya masih belum mampu mengingat sumbernya, atau jangan-jangan memang belum ada seorangpun yang mengemukakann teori ini; foto yang mampu berbicara itu belumlah segalanya. Belum mampu melampaui sebuah foto yang dibicarakan, foto yang menjadi buah bibir. Berbicara dan dibicarakan itu memiliki makna yang berbeda. Maqom-nya pun sangat jauh.
Foto yang berbicara itu adalah foto yang sangat ingin dibicarakan. Perkara apakah nantinya harapannya akan terwujud, tergantung penerimaan dari orang yang menilainya. Tentu saja ini sangat berbeda dengan sebuah foto yang telah berada di level foto dibicarakan. Foto yang dibicarakan itu sudah pasti adalah foto yang berbicara, yang kemudian berevolusi menjadi foto yang dibicarakan banyak orang.
Foto yang dibicarakan itu sudah pasti akan menjadi berita. Dia adalah sumber berita itu sendiri, dia menjadi buah bibir, viral dunia maya, dan dibicarakan di mana-mana. Sehingga wartawan menjadi sangat berkepentingan dengan foto itu untuk disiarkan. Entah itu dengan cara difoto lagi (direpro) atau dituliskan menjadi sebuah berita yang bernilai.
Sedangkan foto yang berbicara, hanyalah foto yang sedang berjuang meminta perhatian. Dengan harapan dia nantinya menjadi foto yang dibicarakan, dipuji, disanjung, dinobatkan menjadi ini-itu, dielu-elukan. Tapi apakah lantas terwujud. Tergantung. Nasib baik yang menentukan kemudian.
Makanya, jangan bangga dulu karena mampu membuat foto berbicara. Sebab, foto yang berbicara itu belum tentu menjadi foto yang dibicarakan. Foto berbicara itu hanya sebatas sebuah potret yang terkungkung oleh kebanggaan pribadi seorang fotografer, yang belum tentu diterima dan dibicarakan orang lain.
Saya punya seorang kawan yang hobi berpose dengan para pesohor. Bahkan hobinya ini sudah mencapai taraf mengkhawatirkan. Ketika melihat seorang pesohor, dia mendadak seperti kehilangan akal sehatnya dan instingnya sebagai wartawan. Dia mendadak blank. Satu-satunya yang mampu diingat hanyalah, dia harus berfoto dengan pesohor yang ditemuinya. Bagaimanapun caranya.
Dia akan linglung dan kehilangan gairah, hanya gara-gara gagal berfoto dengan seorang artis dangdut pendatang baru yang belum terlalu terkenal. Prinsifnya, dia harus berfoto dengan siapapun yang terkenal. Walau itu artis tingkat kampung. Karena konsep terkenal menurut keyakinannya adalah dikenal lebih dari 10 orang. Entah, dari mana konsep itu dipungutnya.
Dan saya sempat mengira, jalan satu-satunya untuk menjaga kewarasannya hanyalah dengan berfoto itu. Ternyata saya salah. Dia justru lebih parah kala berhasil. Saat sukses menjepret dirinya dengan seorang pesohor, kebetulan tokoh salah satu parpol tingkat nasional, dia malah mengalami semacam euforia berlebih. Terserang amnesia. Lalu akhirnya lupa harus menulis berita apa, gara-gara terlalu gembira. Ketika redaktur menanyakan beritanya, dia malah cengengesan sambil menyerahkan foto dirinya dengan sang tokoh. Mungkin dia berharap, fotonya itu bisa masuk koran dan ikutan terkenal.
Saat resign dari kantor kami dan membuka usaha wiraswasta, kegemarannya berfoto dengan pesohor tidak lantas berhenti. Hanya saja sedikit berkurang karena mungkin agak sulit, sebab aksesnya mendekati para pesohor sekarang menjadi tidak mudah. Tahu sendirilah, wartawan kan mudah menyusup kemana saja. Cukup berbekal ID Card, dia bisa menerobos, bahkan sampai ke kamar ganti artis.
Tidak lebih dari setahun berwiraswasta, dia mulai frustasi dan memilih kembali berkarir di media, meski harus pindah ke media massa yang lebih kecil. Mungkin karena dia sudah tidak bisa lagi berselfie ria dengan artis, tokoh parpol, kepala daerah, dan para peshor lainnya.
Tahukah Anda, setiap dia berhasil berfoto dengan artis, dia berusaha keras menerbitkannya di media massa. Kalau ternyata gagal, dia tak habis pikir. Apalagi zaman medsos seperti sekarang. Dia akan memamerkannya di facebook, twitter, instagram, dan lainnya. Kegilaan yang sulit untuk disembuhkan.
Itu tadi cerita tentang seorang kawan. Saya punya seorang kawan lagi yang juga memiliki kegilaan serupa. Dia juga senang memoto dirinya, dan memostingnya ke media sosial. Hanya saja, yang jadi objek targetnya bukanlah orang terkenal. Melainkan benda-benda unik, ganjil, maupun suasana yang berbeda dari kelaziman, dan agak norak.
Pernah dia berfoto di sebuah objek wisata. Saya menduga, dia berfoto di lokasi candi borobudur. Walapun saya tidak terlalu yakin dengan dugaan saya. Kawan saya itu berfoto di dekat tulisan: “No Smoking” yang terpasang di lokasi candi, sambil menyalakan sebatang rokok. Begitu bangganya dia saat memasang foto itu di facebook miliknya, sambil berkoar, merokok adalah hak asasi manusia. Melarangnya berarti telah melanggar HAM. Sinting!
Dia juga pernah berpose di dekat sebuah patung kakek mengenakan blangkon. Saya pernah melihat patung itu. Menilik suasana sekitarnya dan kesibukan orang berbelanja, sepertinya itu di salah satu toko yang menjual souvenir di bilangan Jl Molioboro Jogja. Saya sempat berdebat dengan beberapa pengunjung facebooknya yang mengatakan kalau lokasi patung itu berada di lingkungan keraton. Si pemilik foto, kawan saya itu, begitu menikmati perdebatan di dunia maya itu dengan tanpa memberi komentar apapun.
Dari dua kawan yang memiliki kegilaan serupa ini, saya menyimpulkan, foto mereka berdua dapat digolongkan ke dalam dua mazhab berbeda; mazhab foto berbicara; dan foto dibicarakan. Untuk contoh pertama, memang foto bicara. Menunjukkan kalau dia sedang berfoto dengan artis A, tokoh B, selebriti C, dan lain-lain. Namun tak satupun orang yang mau membicarakannya. Yang ada malah nyinyir. Menatap sebentar, setelah itu beralih.
Berbeda dengan kawan yang kedua, foto yang dihasilkannya sukses menjadi foto yang dibicarakan. Memancing orang untuk menduga-duga. Sekurang-kurangnya akan tertawa. Memang agak menghibur, sampai ada yang mengatakan, fotonya cukup gila dan orangnya pasti sinting.
Terinspirasi dari kegilaan mereka, saya mencoba membangun mazhab baru dalam berpose; yaitu berpose dengan orang gila, berselfie di tempat pembuangan sampah penuh lalat, berpose dengan mayat, pembunuh berantai, pemerkosa janda, pencuri yang habis digebuki massa, berfoto di dalam gelap, dan lainnya. Dan prestasi terbesar saya dalam berpose narsis adalah, berfoto dengan pejabat, artis, selebrita, dengan wajah saya yang sengaja saya tutup dengan masker. ()
Sunday, 27 September 2015
Friday, 25 September 2015
Selamat Datang di WC Pria
NAMANYA saja WC Pria, tentu saja untuk pria. Kalau di tempat-tempat umum yang biasa menyediakan WC, biasanya ditandai dengan lambang manusia yang tidak pakai rok. Di bawahnya bertulisan “Man”. Entah mengapa tidak ada yang bertulisan “Pria”. Mungkin yang bikin bukan orang kita. Ah, Indonesia bikin benda seperti ini saja tidak bisa.
Beberapa masa kemudian, seorang teman menunjukkan gambar yang diperolehnya dari internet, ada logo WC yang bertulis pria. Saya langsung berbinar. Penemuan berharga itu langsung mengubah persepsi saya, dan saya kembali mencintai Indonesia. Walau hingga saat ini saya belum sekalipun menemukan yang demikian di alam nyata.
Tapi sudahlah, apalah arti sebuah simbol, yang penting kalian bisa mengenali dan tidak salah masuk. Sebab kalau keliru, bisa gawat, boy. Alarm alami yang dipunyai wanita otomatia bunyi. Diteriaki Bung! Atau ya minimal Anda dipelototi sambil ditegur begini: Maaf (eh, kadang juga gak pakai maaf), apa Anda tidak bisa baca! Anda buta?
Memang egois, tapi ya begitulah wanita. Reaktif, pemarah, tak mau disepelekan, dilecehkan, suka nangis, suka mendiamkan prianya hingga berhari-hari, ingin selalu dinomorsatukan, anti dipoligami dan banyak lagi. Ironisnya, mereka tetaplah menjadi makhluk yang menyenangkan bagi
kita, bagi pria.
Bagaimana dengan wanita sendiri? Inilah bedanya dengan pria. Wanita boleh ngintip, terang-terangan
juga boleh. Apa pria marah? Tak sanggup rasanya hati ini marah. Malah ada yang senang. Bangga diintip wanita. Pria memang beda.
Pria-pria memang biasa terbuka dengan siapa saja. Dengan makhluk
cantik bernama wanita, apalagi. Tak ada pria yang marah kalau wanita salah
masuk WC. Padahal belum tentu wanita akan selalu aman buat mereka. Siapa yang
bisa jamin kalau wanita tidak bakal melirik ke arah bagian-bagian tertentu yang
mereka sukai dari tubuh lelaki. Atau berbuat sadis. Banyak di koran dan
televisi yang memberitakan ada wanita yang membunuh suaminya atau yang
mendalangi pembunuhan. Pemerkosaan dan lainnya.
Begitupun
dengan blog ini. Silakan para wanita masuk blog WC Pria. Mau sekadar mengintip
ataupun mau numpang “pipis” (berkomentar dan segala macamnya) juga monggo.
Sekali lagi, karena pria lebih terbuka, sedangkan wanita
selalu ingin dimengerti. Itu saja.
Mengapa
harus WC Pria, karena WC bagi pria (mungkin wanita juga) bukan sekadar tempat
buang hajat. Pipis beol setelah itu sudah. WC telah menjadi tempat segalanya.
Tempat merenung, tempat merokok, kadang memang klop juga sih merenung sambil
merokok.
Kalau pas kebetulan mulas, sembari menuntaskan sesuatu yang memang
saatnya untuk dikeluarkan, merokok sambil jongkok dan merenung di WC itu
rasanya nikmat banget. Tidak perlu kita harus repot bersopan-santun dan sok menjaga kesehatan orang yang
tidak merokok di sekitar kita.
Tidak perlu takut ditegur, karena setahu saya
belum ada satupun WC di daratan ini yang ditempeli stiker peringatan bergambar
rokok disilang merah. Jadi selama tidak ada itu, WC masih menjadi zona aman
untuk merokok.
Dulu ada
kawan yang mengeluh mulas dan minta izin mau ke belakang, tapi malah lari ke
depan. Mau ke warung dulu katanya. Beli rokok. Dia mengaku tak pernah merasa
puas kalau beol tanpa rokok. Seperti sayur tanpa garam, seperti langit tanpa
bintang, seperti lelaki jomblo tanpa sabun. Entah metabolisme tubuh macam apa
yang dipunyainya sampai-sampai tak bisa beol tanpa rokok. Saya pernah coba,
ternyata nikmat juga.
WC bagi
pria juga semacam tempat privasi, tempat yang cukup pribadi. Walaupun banyak juga
pria yang buang hajat sembarangan. Di bawah pohon, tiang listrik, rerimbunan
semak, ATM, telepon umum, sudut toko, sambil komat-kamit minta izin; “Mbah…cucu
numpang pipis…”
Bahkan ada
yang kebelet saat nyetir. Dengan cukup meminggirkan mobilnya, membuka pintu dan
menjadikannya semacam pembatas dengan alam terbuka, lalu cuuurrr…nyucinya pakai
air mineral kemasan, sisa airnya dia pakai lagi buat minum. Atau pakai daun. Biasanya
ini buat yang tidak nemu air dan kebetulan melakukan ritual tersebut di dekat
pohon. Kalau tidak punya daun dan air, kadang juga cukup dijentik, tik, tik,
tik. Sudah.
WC kadang
juga menjadi tempat memuaskan nafsu (jangan ngeres dulu), amarah, menangis.
Kalau menangis biasanya pria paling anti ketahuan orang, apalagi ketahuan
wanita. Kalau ketemu WC, tinggal kunci pintu, nyalakan kran, sudah deh mewek.
Menangislah sang pria sejadi-jadinya. Lebay!
Dan
Entahlah, sudah sejak kapan WC menjadi tempat untuk menggali ide cemerlang.
Dalam sebuah wawancara di televisi, salah satu artis, penulis, sekaligus
pencipta lagu terkenal di zamannya Dik Doang mengaku hanya bisa berpikir
cemerlang, memproduksi semua ide-idenya saat duduk di kloset.
Sampai-sampai
hanya untuk keperluan memunculkan kesan sedang berada di dalam WC, dia sampai
menaruh kloset di ruang kerjanya. Sehingga ketika dia kehabisan ide saat
menulis atau menciptakan lagu, maka dia berpindah dari kursi kerjanya dan duduk
di kloset. Dan secara ajaib, ide itu berhamburan keluar dari benaknya seperti
hujan deras yang turun dari langit. Wow!
Kadang,
ketika si pria-pria kesepian tak punya kawan curhat, dia masuk WC. Bicara
sendiri. Ruang WC yang sempit dan tertutup rapat biasanya akan menciptakan
pantulan-pantulan suara yang sedikit berbeda dari aslinya. Maka jadilah dia
sebagai lawan bicara yang mengasyikkan, tidak “ember”, rahasia terjamin, tidak pernah
nyolot atau malah balik menyalahkan kita, tak pernah mendebat. Pokoknya paling
memahami kita deh. Gila!
Seorang
orator pemula, kadang tak cukup hanya cermin yang dia jadikan media berlatih.
Tahukah Anda, sebelum sampai cermin dia akan berlatih pidato sejadi-jadinya di
dalam WC. Membayangkan sedang berbicara di depan kerumunan massa, berdiri di
atas podium agung. Dengan gagah memegang gayung yang didekatkan ke mulut, dan
mulailah berorasi dengan kalimat standar; saudara, saudara!
WC juga
kadang bisa menjadi tempat meludah, membuang puntung rokok, menjadi semacam
asbak. Memang kesannya jorok, tapi ini masih lebih sopan ketimbang membuang
pembalut, tissue bekas ngelap kosmetik dan sejenisnya. Kalau sudah pembalut
yang dibuang, alamat mampet. Ujung-ujung keluar duit buat manggil tukang sedot
WC.
Makanya, di kebanyakan WC umum sering dipasang peringatan agar tidak membuang
pembalut, tissue dan puntung rokok ke dalam lubang kloset. Maknanya apa? Karena
lubang WC biasanya jadi tempat pembuangan barang begituan. Tapi yang jelas
tidak ditempeli larangan merokok. Hanya saja kalau membuang puntung jangan ke
dalam lubang.
WC seakan sudah
menjadi teman paling setia bagi kita. Tak pernah terbatuk-batuk mendengar suara
pals kita bernyanyi, tak pernah mengumpat saat kita meludahi, tak pernah menjadi
paparazzi dan menyebarkan foto wajah kita yang bersemu merah, bergetar hebat saat
berjuang melepaskan sisa makanan dari dua lubang saluran pembuangan di tubuh
kita. Atau mempublishnya lewat Instagram dan youtube ke dunia maya ketika
menyaksikan kita melakukan sesuatu yang bersifat sangat pribadi.
Kalaupun
pernah terjadi, ada video yang disebar di internet, pelakunya jelas bukan dia. WC
tak pernah menusuk dari belakang. Tak pernah juga merasa cemburu ketika kita
ketahuan pipis dan beol di WC lain.
WC juga tak
pernah menuntut kita membersihkannya setiap saat. Kadang saat kita malas,
menyiram sisa kotoran saja kita sering lupa. Tak pernah juga dia
merengek-rengek minta dibelikan kamper wangi, pengharum ruangan ber-timer, atau
menaruh lukisan bunga untuk mempercantik penampilan.
Semua terserah kita.
Sepanjang kita betah dengan dia, sebau, seburuk apapun penampilannya, WC tetap
setia melayani tuannya. Kadang juga bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan uang.
Walau hanya recehan, tapi lumayan.
Bagi para
jomblower tulen, WC kadang bisa lebih indah dari kesakralan sebuah kamar
pengantin, lebih mewah dari sebuah kamar hotel kelas melati, lebih setia dari
mantan yang berpaling ke lelaki lain, atau istri bohai yang juga bisa berselingkuh
di belakang kita.
Kalaupun sesekali WC menerima pengguna lain, pastilah itu
atas seizin pemiliknya. Sejorok apapun prilakumu, WC tetap menerimamu apa
adanya.
Curhatlah
di sini, menangislah di sini, marahlah di sini, berteriaklah di sini (tapi
jangan kencang-kencang, malu kedengaran orang), meludahlah di sini, berbagilah
di sini, berlatihlah di sini, berapa-apapunlah di sini. Di sini aman.
Tapi maaf kawan, saya sedikit keliru soal logo WC Pria yang tidak pernah menyantumkan kata "Pria". Beberapa bulan setelah menghantarkan tulisan ini di blog saya, saya pulang bepergian menggunakan pesawat. Setiba di Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru, saya kebelet pipis. Singgahlah saya di WC di sebelah pintu keluar kedatangan. Di situ saya melihat logo gambar orang tanpa rok dan bertulisan " Pria". Saya surprise sekaligus tepekur. Oh Tuhan, ternyata saya terlalu asosial. ()
Subscribe to:
Posts (Atom)