Tuesday, 6 October 2015

Tiga Menit

TIGA menit itu kalau dikonversi ke detik menjadi 180. Karena satu menit adalah 60 detik, maka kalau tiga menit akan menjadi 180 detik. Tapi bukan itu yang saya bahas dalam tulisan berikut. Makna tiga menit bagi tiap orang beda-beda. Bagi wanita beda, begitu juga pria. Bahkan antar sesama wanita dan sesama pria pun, memandang durasi tiga menit itu dengan makna dan respon yang berbeda pula.

Tiga menit tentu saja tidak sebanyak 5 menit, apalagi satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, apalagi bertahun-tahun dan seterusnya. Namun tanpa tiga menit, tentunya tidak bakal mencapai 5 menit, satu jam, satu hari dan seterusnya. Tidak pernah sekalipun waktu itu tiba-tiba lompat, seperti urutan bangku pesawat yang tidak pernah mencantumkan nomor 13 di bangku pesawat. Tak pernah melompat dari dua menit langsung ke menit 4 tanpa melewati menit 3. Sekecil apapun anggapan orang terhadap tiga menit, tetap saja dia sangat menentukan.

Tiga menit tambahan waktu bagi sebuah pertandingan bola di partai yang sangat menentukan hidup mati sebuah klub bola tentu sangat menentukan. Apapun bisa terjadi dalam tiga menit waktu tambahan tersebut. Satu gol bisa saja tercipta di masa injury time. Mengubah sebuah harapan dari berharap menjadi pupus, atau sebaliknya, dari awalnya tidak berharap, menjadi sebuah kesempatan yang tidak boleh dibuang begitu saja.

Bagi petinju yang sedang bonyok di atas ring, waktu tiga menit bisa menjadi harapan sekaligus ketakutan. Siapa yang bisa jamin, seorang petinju tidak bakal terpukul KO dalam waktu tiga menit. Seorang petinju yang lengah, dapat saja tersarang pukulan di daerah mematikan dan jatuh, KO, dan tak bangun lagi. Walaupun sepanjang pertandingan di ronde-ronde awal dia sudah memimpin angka dan dipastikan bakal menang.

Seorang pelari yang sedang beradu sprint dengan pelari lain, tiga menit itu sudah terlalu banyak. Untuk jarak 100 meter, kalau harus menempuhnya dalam tiga menit, sudah dipastikan dia bakal kalah. Kecuali dia lari untuk kategori maraton.

Seorang ibu yang sedang berjuang melahirkan anaknya, terlambat tiga menit saja, jangankan tiga menit, tiga detik saja terlambat, maka dapat saja nyawa dia atau anaknya bakal terancam. Begitupun dengan seseorang yang tengah berada di ruang ICU, tiga menit, bisa saja menjadi waktu yang sangat lama untuk perjuangan mempertahankan selembar nyawanya.

Tiga menit bagi seorang wanita dan tiga menit bagi seorang pria yang sedang ML tentu berbeda rasanya. Ada yang merasa itu terlalu cepat, ada yang malah merasa itu sudah sebuah pencapaian yang maksimal dan jantan.

Bicara tentang tiga menit dan kejantanan, saya pernah punya pengalaman menarik. Suatu ketika, di waktu yang kurang tepat, saya pernah menumpang pulang dengan seorang teman. Mengapa waktunya kurang tepat, karena pada saat itu dia rupanya sudah punya rencana mau singgah di suatu tempat. Hanya mungkin karena tidak enak menolak, dia terpaksa membawa saya.

Belum sampai ke tempat tujuan, motor dia belokan. Rupanya dia sedang kebelet pengen buang hormon di Lokalisasi. Setelah mutar-mutar dari satu rumah cinta ke rumah cinta yang lain, akhirnya dia menghentikan motornya di sebuah rumah yang ada warung di depannya. Di sana ada beberapa wanita berpenampilan menggoda. Pesan kopi, dan mulailah teman saya memasang mata elangnya. Ketika mantap dengan salah satu wanita, dia menariknya ke dekat kami. Negosiasi pun dimulai.

Karena saya merasa tidak berkepentingan dengan urusan itu, salah memilih aktivitas lain; menghitung waktu. Dari waktu singgah, pesan kopi, negosiasi, hingga lamanya durasi dia kencan di kamar. Dengan satu kesimpulan, mereka hanya ML selama tiga menit, namun sama-sama puas. Buktinya ketika keluar kamar, sang wanita masih bergelayut manja di lengan teman saya, dan wajah teman saya pun cerah.

Mungkin karena lega hajatnya tertuntaskan dan si wanita, wanita dengan pakaian serba kekurangan itu, saya yakin juga puas karena dagangannya laku hari itu. Walaupun saya tidak begitu yakin dia puas secara biologis. Itulah mungkin yang membuat para pria memilih membuang kelebihan energinya di tempat begituan, karena rata-rata wanita disana sangat lihai membuat pria percaya diri. Selemah, seloyo, seletoi apapun dia. Setidaknya begitu alasan teman saya yang sudah beristri namun masih suka jajan. Walau tidak sepenuhnya benar seperti itu, sebab ada saja pria-pria hidung berwarna yang malah sangat tertantang memuaskan pasangan sesaatnya. Mereka sampai rela menenggak darah ular, mengonsumsi obat stamina, meminum jamu sehat lelaki untuk meningkatkan vitalitas. Termasuk mendatangi tabib dan dukun untuk menjalani terapi khusus, mempermak alat vital mereka, hanya untuk tampil “jagoan” di depan istri bayaran.

Seorang kawan lainnya begitu semangat menceritakan kesuksesannya menaklukkan seorang wanita malam hanya dengan selembar tissue ajaib yang dipesannya secara online. Kata dia, ini cara paling aman yang sama sekali tidak memiliki resiko kesehatan maupun serangan jantung yang kerap terjadi pada mereka yang meminum obat vitalitas. “Cukup diusapkan di bagian ‘itu’ sebelum main,” katanya. “Efeknya hanya sedikit panas dan agak kebas, selama sekitar 6 jam. Kalau mau terbebas dari efek tissue itu, cukup dicuci dengan sabun.”

Kalau hanya untuk memuaskan lawan main, sementara kita tidak merasakan apa-apa, buat apa. Bukankah kita datang, menghabiskan uang di tempat yang begituan untuk memuaskan diri, menuntaskan hasrat. Saya sungguh tak habis pikir. Masa hanya untuk berbuat dosa saja sampai harus menanggung kerugian sedemikian banyak. Rugi lahir dan di dalam bathin. Uang habis untuk bayar jasa seks dan peranti penguat vitalitas, sedangkan kepuasan sama sekali tidak di dapatkan.

Ada lagi trik lain yang digunakan seorang kawan untuk menaklukkan para penjaja kepuasan. Cara ini memang lebih murah, lebih aman, dan rendah resiko. Yaitu dengan melakukan onani sebelum ngamar. “Kita bisa lebih mudah mengendalikan diri dan mengendalikan tempo permainan,” ujarnya.

Mengapa harus main lama-lamaan di atas ranjang. Mereka punya banyak alasan. Pertama ingin menunjukkan kalau mereka jantan. Kedua dendam. Untuk alasan kedua ini, mungkin si pria ini pernah mengalami nasib dihina saat keluar lebih cepat, oleh pasangan resmi maupun rentalannya. Alasan ketiga, ada beberapa Lokalisasi yang menerapkan aturan beli, bukan dengan jam-jaman, seperti sekian jam bayar sekian. Tapi seberapa kuat tamu bisa bertahan. Umpama dia mampu bertahan seharian penuh, maka seharian itu pula dia bisa menikmati kebersamaan.

Alasan lainnya, kejiwaan. Ada pria yang merasa senang ketika melihat lawan terkapar tak berdaya, terengah-engah mengimbangi permainannya, bahkan kalau bisa sampai harus gigit kain segala. Pokoknya, jangan sampai keok kurang dari satu ronde pertandingan tinju alias harus mengaku kalah dalam tiga menit. Bahkan kalau bisa nih ya, dia bisa membawa perempuannya bertandingan berkali-kali, beronde-ronde tanpa harus “keluar” duluan.

Namun tiga menit bagi orang bijak tentu sangat jauh berbeda. Tiga menit dapat menjadi waktu yang sangat menentukan, apakah dia memilih kalah dan memperturutkan nafsu sesaat dan berujung kerugian di kemudian hari. Tiga menit yang membuat hancur keluarga, atau menderita penyakit tertentu dan menularkannya kepada istri yang tidak berdosa di rumah. Tiga menit yang membuat dia akan menerima nasib yang lebih mengenaskan di akhirat nanti, karena harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di hadapan Tuhan.

Tiga menit juga akan menjadi waktu yang sangat krusial bagi nasib suatu bangsa di bilik suara. Salah sedikit saja dalam menentukan pilihan, seorang warga negara yang baik, yang sedang menentukan hak pilihnya, dapat saja turut berdosa dan menyesal di kemudian hari karena telah salah memilih pemimpinnya. Karena itu, gunakan sebaik-baiknya waktu, karena waktu tak dapat diputar ulang, walau hanya tiga menit. ()

No comments:

Post a Comment