Wednesday, 30 September 2015

Antara Cok Simbara, Abidinsyah, dan Pilkada Banjar

TERUS terang, secara pribadi, saya tak mengenal pria ini. Saya pun tidak terlalu peduli dengan baliho yang memampang fotonya. Mengenakan kemeja biru, rapi dan berpeci. Reklame berukuran besar ini muncul di momen tertentu. Biasanya di hari besar keagamaan, HUT kemerdekaan, hari jadi daerah, dan momen peringatan lainnya. Bersamanya ada ucapan-ucapan selamat dan kata bijak yang terkait dengan momen yang menjadi alasan iklan itu di pasang.

Lokasi pemasangannya selalu sama, di dekat jembatan Sungai Pering, pojok terminal Pasar Belauran Martapura, Bundaran Km 17, dan beberapa spot strategis lainnya. Namun yang pasti, baliho bergambar pria berwajah ganteng itu – setidaknya demikianlah menurut penilaian istri saya – tidak pernah melampaui atau berada di luar wilayah Kabupaten Banjar.

Oh iya, mengenai wajah ganteng itu, menurut istri saya, sangat mirip dengan artis terkenal tahun 90-an, Cok Simbara. Cok Simbara? Siapa pula orang itu. Saya akui, saya memang sedikit kuper. Suka menyendiri dan lebih asyik dengan diri sendiri. Maka, sepanjang perjalanan dari Martapura-Banjarmasin pulang pergi, saya masih belum bisa membayangkan seperti apa sosoknya. Beda kalau yang disebut itu semacam anggota Warkop DKI (Dono Kasino Indro), atau Kadir-Doyok, Grup Bagito (Miing, Didin, dan Unang), dan sederet aktor yang selalu bermain film bergenre komedi, saya pasti kenal. Saya memang tidak terlalu suka dengan film roman-romanan, berair mata, yang banyak mengekapose intrik percintaan, dan cengeng. Mungkin ini hanya karena beda selera saja.

Sampai di sini, saya masih cuek. Saya tidak terlalu peduli dengan siapapun yang memampangkan diri di baliho-baliho berukuran besar. Termasuk ucapan dan kata-kata bijak yang termuat bersamanya. Bukan karena saya anti politik dan memusuhi para politisi, bukan. Saya cuma tidak ingin mumet. Saya hanya ingin yang ringan-ringan saja. Santai dan selalu berusaha mencari sisi lucu dari semua peristiwa.

Kata orang saya ini apatis, tapi tidak juga. Malah justru melankolis dan sangat mudah terharu sampai menitikkan air mata kalau menyaksikan kisah-kisah mengharukan. Makanya saya tidak mau nonton film yang ada adegan tangis-tangisannya. Saya bisa nangis melebihi wanita. Sebagai pria, ini memang sisi pribadi yang amat memalukan. Bisa ngakak istri saya kalau dia tahu.

Saya pun kadang suka terharu bila membaca kata-kata bijak yang dapat membangkitkan semangat. Karena alasan itu pula saya sangat tidak ingin, bahkan sering membuang muka ketika melihat baliho besar di pinggir jalan. Takut mata ini sembab. Apa kata orang nantinya melihat saya tiba-tiba bersimbah air mata saat naik motor karena terharu membaca isi reklame. Pria apaan, lebay! Semoga istri saya tidak baca tulisan ini, karena sungguh, ini rahasia terbesar saya.

Siapa pria di baliho itu, siapa Cok Simbara, saya tidak peduli. Namun sikap keras kepala ini tidak bertahan lama. Sekitar dua tahunan, tepatnya hingga Ramadan baru tadi. Tanpa sengaja membaca sebuah artikel kesehatan di internet, yang menuliskan bahaya tidur setelah makan sahur. Saya manut berjaga sampai agak siangan. Untuk mengusir rasa kantuk setelah salat subuh, saya sibukkan diri dengan menonton TV. Tentunya acara yang ada humor-humornya.

Pilihan saya sebuah sinetron Ramadan yang menceritakan tiga pria konyol, yang sangat bermasalah dengan cinta, pekerjaan, dan nasib baik. Sepertinya, tiga orang ini tak pernah bernasib mujur. Selalu sial. Kerap terlibat konflik, kalau tidak rebutan cinta dan persaingan dengan pria-pria lain yang lebih tajir, pastilah konflik itu terkait masalah pekerjaan. Mereka bertiga juga kadang bermasalah dengan penghuni rusun lainnya, termasuk dengan orang tuanya yang mulai gerah dengan kesialan yang ditimbulkan mereka. Hanya satu orang yang selalu sabar dan sering menolong tiga semprul ini sekaligus menjadi tempat curhat dan meminta nasihat. Dia adalah Ustaz Kosim. Sosok ustaz sederhana, bijak, dan penuh keikhlasan. Dia juga sangat disegani oleh seisi rusun. Belakangan saya tahu, aktor yang memerankan Ustaz Kosim tak lain adalah Cok Simbara. Itupun setelah diberitahu istri saya. Rupanya ini orangnya.

Sampai di sini, saya belum juga sempat terpikir untuk menghubungkan kemiripan tokoh berpeci, berkemeja biru rapi di baliho itu. Saya masih begitu larut dengan cerita komedi yang menurut saya lucu, segar dan menarik. Ini pasti karena sutradara dan penulis naskahnya yang hebat. Mampu menyulap artis-artis yang sebenarnya bukan pelawak seperti Gading Marten dan Andika Pratama menjadi seorang yang sangat konyol dalam serial yang hanya tayang di pagi bulan puasa itu; Tiga Semprul Mengejar Surga. Begitu judulnya seingat saya.

Skip, skip, skip...Beberapa minggu berlalu usai lebaran. Saya belum juga tertarik mencari tahu, siapa pria berkemeja rapi, berpeci di baliho itu. Oh iya, di beberapa kesempatan, pria yang kata istri saya mirip Ustaz Kosim (Cok Simbara) itu, ternyata tidak selalu mengenakan kemeja biru dalam balihonya, pernah juga berpakaian baju koko warna putih dan sederhana. Bila sudah begini, betul-betul sangat mirip dengan sang ustaz. Hingga akhirnya di suatu siang, saya memiliki keperluan ke Banjarmasin. Melewati bundaran Km 17, mata saya tertumbuk pada baliho bergambar pria ini. Dia bersama istrinya. Terlihat cantik. Saya pikir, mereka berdua memang pasangan serasi. Apakah Cok Simbara juga memiliki istri yang berparas serupa dengan istri orang ini? Jangan-jangan memang demikianlah adanya.

Tumben dan seakan ada yang memerintahkan, saya menyempatkan berhenti, dan membaca tulisan-tulisan di dalamnya. Ucapan lebaran yang belum juga dilepas dari papan berukuran besar ini. Kalimatnya standar, “Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Bathin, bla…bla…bla…”. Di bagian bawah tertulis dengan huruf kapital: KELUARGA BESAR PANGERAN ABIDINSYAH. Ow oo, rupanya Abidin nama pria ini. Sampai di sini saya baru tahu namanya. Siapa dia dan apa latar belakangnya, belum. Mungkin dia tokoh penting di daerah ini, mungkin pula dia pejabat. Saya tak ambil pusing dan memilih melanjutkan perjalanan.

Tak terasa Idul Adha tiba. Karena terjadi perbedaan antara penganut Muhammadiyah dengan pemerintah dalam merayakan lebaran, kami ketiban berkah, mendapat libur kerja dua hari. Lumayan. Waktu itu saya gunakan untuk nonton televisi berbayar di rumah. Channelnya memutar film-film lawas. Dan sangat kebetulan, lagi-lagi diperankan oleh Cok Simbara. Judulnya: Kentut.

Diceritakan dalam film tersebut, seorang dokter yang bertugas di sebuah rumah sakit di Kabupaten Kuncup Mekar dan menjabat sebagai kepala rumah sakit. Namanya dr Fery. Tokoh ini diperankan Cok Simbara. Suatu hari dr Fery mendapat pasien yang merupakan orang penting. Pasien tersebut adalah Ibu Patiwa, salah satu calon bupati yang maju di pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Kuncup Mekar. Karena pasiennya adalah orang penting, Fery mendapat tekanan yang berbeda dibanding menangani pasien biasa.

Tim sukses dari calon bupati tersebut terus menerus mendesak agar memberikan perawatan terbaik. Fery menjawab dengan bijak, bahwa pihak rumah sakit akan berusaha memberikan yang terbaik. Namun dia mengingatkan, tim dokter hanya berusaha, tetapi yang menentukan kesembuhan adalah Yang Maha Kuasa.

Keadaan menjadi semakin rumit karena banyak wartawan yang datang ke rumah sakit untuk meliput perkembangan kesehatan sang calon bupati. Nama baik dan kredibilitas rumah sakit menjadi sorotan publik. Sang dokter berada dalam situasi yang sangat membingungkan. Tim sukses yang tidak sabaran, para wartawan yang terus menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan sungguh membuatnya stress berat. Namun Cok Simbara, eh dr Fery  tetap berusaha tenang dan sabar. Hingga akhirnya Fery mendapat suatu titik terang. Menemukan alternatif cara agar sang pasien bisa segera kentut. Dan ternyata benar, sang pasien benar-benar bisa kentut.

Sebuah cerita yang menurut saya sangat menghibur karena mengandung unsur komedi, kesukaan saya. Juga terdapat pelajaran berharga berupa ketenangan dan keyakinan yang ditunjukkan dr Fery. Film berakhir, digantikan tayangan iklan bermenit-menit.

Untuk membunuh kebosanan, menunggu film selanjutnya, saya memilih menyalakan internet. Tiba-tiba saya teringat tentang kembaran Cok Simbara di baliho ketika itu. Apa kabar dia ya? Saya pun mencarinya di mesin pencarian andalan. Apalagi kalau bukan google. Saya ketik kata kunci: Pangeran Abidinsyah. Informasi pun keluar susul menyusul. Dan ternyata sangat banyak. Rupanya dia memang tokoh yang banyak ditulis media.

Benar dugaan saya, saat pertama kali meneliti baliho di Km 17 dalam perjalanan ke Banjarmasin beberapa waktu lalu. Ternyata dia memang seorang pejabat, eselon dua. Pernah menduduki beberapa jabatan penting di Pemkab Banjar. Karirnya tergolong moncer. Pernah pula karena prestasi nasional yang dicapainya, Abidin sampai mendapat anugerah lompat naik pangkat sampai dua kali. Sesuatu yang sangat jarang diraih seorang pegawai negeri.

Laman demi laman situs berita saya baca untuk menuntaskan rasa penasaran pada pria berdarah bangsawan Banjar ini. Abidin ternyata seorang yang memiliki jiwa sosial yang terpuji. Terceritakan kalau dia bukan sosok peragu. Terlebih ketika harus menolong orang yang sedang dalam kesusahan. Dia mengunjungi dan membantu keluarga tidak mampu yang kebetulan membutuhkan biaya pengobatan karena menderita penyakit berat dan terhimpit ekonomi. Dia memang tidak selalu mampu membiayai pengobatan orang yang ditolongnya seorang diri, apalagi dari kantong seorang pegawai negeri, walau Abidin memiliki jabatan yang tidaklah rendah.

Kalau sudah mentok, Abidin biasanya akan mengajak rekan-rekan sejawatnya untuk membantu. Dengan membuka dompet peduli untuk disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. Di sinilah mungkin salah satu bukti kecerdasan dan talenta kepemimpinan yang dimilikinya. Tak salah jika salah satu parpol besar kemudian mau mengusungnya menjadi calon kepala daerah. Walaupun, saya sempat baca juga, proses pendaftarannya menjadi bakal calon kepala daerah harus melalui jalan berliku dan nyaris gagal akibat ditolak KPU setempat.

Ramai juga diberitakan, bagaimana perjuangan Pasangan Calon Abidinsyah-Mawardi untuk bisa mendaftarkan diri sebagai calon yang diusung oleh satu partai yang mengalami dualisme kepengurusan di tingkat pusat, harus mengikuti sidang-sidang melelahkan yang diselenggarakan Panwaslu untuk menyelesaikan perkara yang melibatkan dirinya dengan KPUD.

Dan Uniknya, di tengah perjuangan hidup mati untuk mendapatkan pengesahan sebagai calon kepala daerah saja, pasangan yang kemudian mengusung jargon Abdi ini harus pula menghadapi upaya calon lawan politik, tiga pasangan calon kepala daerah lain yang lebih dulu disahkan KPUD, berusaha mengadang langkah Abidin memasuki gelanggang pertarungan. Sampai-sampai mereka bertiga yang harusnya saling bersaing, malah memilih bersatu dan membentuk semacam forum komunikasi untuk menyingkirkan pasangan ini. Begitulah politik. Kadang kejam. Benarlah sebuah ungkapan, tak ada teman sejati dan tak musuh abadi dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan. Karena itu pula, saya cenderung memilih kata tidak untuk politik.

Semakin jauh laman yang terbaca, semakin banyak informasi tentang Abidin yang terbuka. Si “Cok Simbara” ini ternyata juga sangat peduli dengan aktivitas dan pembinaan keagamaan. Mungkin karena dia Ketua ICMI. Tapi yang jelas dia terlihat begitu aktif memerangi buta aksara hijaiyah, dengan membuka sebanyak-banyaknya lembaga baca tulis Alquran. Kalau Soeharto disebut Bapak Pembangunan, Gusdur Bapak Fluralisme, untuk skop yang lebih kecil di daerah, Abidin layak disandangkan dengan sebutan Bapak Iqra Kabupaten Banjar. Setidaknya demikian pendapat saya. Sampai di sini saya mulai terharu dan menitikkan air mata. Walau secara pribadi, saya tidak mengenalnya, begitupun dia.

Begitulah. Seandainya kelak, dari hasil pemilihan yang jujur dan adil, si Cok Simbara kawe satu ini terpilih memimpin kabupaten yang berjuluk Serambi Mekkah, menjadi bupati di bumi yang banyak mencetak para santri di nusantara, dan mengabdi total pada masyarakatnya yang sangat agamis, saya rasa warga tidaklah akan terbebani rasa berdosa karena memilih dia, sebab pilihan mereka sudah tepat. Setidaknya begitu menurut saya. ()

No comments:

Post a Comment